Senin, 17 September 2012

Phobia dan Cara Mengatasinya

Apa sih sebenarnya phobia itu? Selama ini banyak orang salah mengartikan phobia dan menganggap sama dengan rasa ngeri. Namun sebenarnya phobia itu tidak sama dengan ngeri. Lebih tepatnya phobia adalah rasa takut yang berlebihan atas sesuatu. Ketika Anda merasa takut/ngeri, maka secara alami Anda akan berusaha melindungi diri. Sedangkan pada phobia, rasa takut tersebut akan menguasai penderita dan membuat si penderita menjadi kalut dan lemah.
Seperti dikutip dari WebMd, menurut para ahli secara garis besar phobia dibagi menjadi 3 macam kategori:
I. Agoraphobia: Takut akan tempat ramai
Sebenarnya nama agora diambil dari sebuah pasar dan balai pertemuan di jaman Yunani Kuno. Sehingga sampai saat ini nama agoraphobia mewakili rasa takut akan tempat ramai. Mereka yang menderita agoraphobia biasanya akan terlihat sangat cemas saat berada di tengah-tengah kerumunan orang, di antara antrean bank, dan tempat yang banyak kerumunan orang lainnya. Jika orang yang ada di sekitarnya semakin lama semakin bertambah, maka ia akan berusaha kabur dan menghindar. Untuk itulah mereka yang menderita agoraphobia lebih suka menyendiri.
II. Social Phobia: Takut bertemu orang
Seseorang yang mengidap social phobia bukanlah seseorang yang pemalu. Namun terlebih rasa takut yang cukup besar yang dirasakan saat bertemu dengan orang lain. Ketakutan tersebut meliputi, rasa takut bahwa orang lain akan menilai fisiknya buruk, ketakutan bahwa ia tak akan bisa berbicara dengan baik di depan orang lain, atau ketakutan bahwa ia bersikap buruk.
III. Spesific phobia: ketakutan terhadap beberapa hal yang spesifik
1. Claustrophobia: takut berada di ruang yang sempit
Mereka cenderung akan mulai gugup, berkeringat, kehabisan nafas saat berada di ruang yang sempit. Ketakutan yang dialami biasanya cukup parah dan membutuhkan perhatian yang khusus. Mereka tak bisa berada di ruang sempit seperti lift, toilet di pesawat atau kereta api, dan tempat sempit lain. Sebaiknya jika ada orang terdekat Anda yang mengalami hal ini, berikan mereka tempat duduk di dekat jendela saat berada di transportasi publik, ajak dia naik eskalator atau tangga.
2. Zoophobia: takut akan hewan tertentu
Zoophobia adalah rasa takut akan hewan tertentu, pada umumnya ketakutan tersebut meliputi: ketakutan terhadap laba-laba yang disebut acarhnopobhia; ketakutan terhadap ular yang disebut ophidiophobia; ketakutan terhadap burung yang disebut ornithophobia; dan ketakutan terhadap lebah yang disebut apiphobia.
3. Brontophobia: takut akan halilintar/petir
Bronte dalam bahasa Yunani artinya adalah petir. Dan mereka yang mengalami brontophobia biasanya menolak untuk pergi keluar pada saat hujan yang disertai dengan petir. Mereka bahkan kerap bersembunyi di balik pintu, menutup kepala dengan bantal atau melakukan semua hal agar bisa bersembunyi dari petir.
4. Acrophobia: takut ketinggian
Pada umumnya mereka yang mengalami acrophobia akan menolak untuk naik ke tempat yang tinggi. Jika memang mereka terpaksa naik ke tempat tinggi maka biasanya mereka akan sangat tegang, mengeluarkan keringat dingin, wajah menjadi pucat, dan bahkan yang berbahaya ia tak akan bisa bergerak saat ia merasa ketakutan.
5. Aerophobia: takut terbang
Seseorang yang mengalami aerophobia takut jika harus naik pesawat terbang. Hal ini bisa dikarenakan ia pernah mengalami trauma, entah kecelakaan ataupun turbulensi. Pada umumnya mereka akan merasa panik, dan terbayang-bayang akan hal buruk yang terjadi.
6. Phobia rasa sakit
Phobia ini termasuk ketakutan akan darah (hemophobia) dan takut akan jarum suntik (trypanophobia). Mungkin rasa takut akan jarum suntik adalah wajar, namun pada penderita phobia ini kondisi mereka akan drop, dan ada kemungkinan mereka bisa pingsan.
7. Phobia paranormal
Ada phobia yang disebut triskaidekaphobia, yaitu takut akan semua hal yang berhubungan dengan angka 13 yang konon merupakan angka sial. Bagi mereka yang mengalami phobia ini biasanya akan menunda perjalanan jika diharuskan pergi pada tanggal 13. Ada pula chiroptophobia, yaitu ketakutan akan kelelawar yang berhubungan dengan vampir. Mereka cenderung menganggap kelelawar adalah jelmaan vampir. Sedangkan phasmophobia adalah rasa takut yang timbul akan hantu. Dalam benaknya, mereka selalu terbayang bahwa ada hantu di sekitar mereka.
8. Emetophobia: adalah ketakutan akan rasa mual dan muntah
Beberapa dari kita mungkin sering merasakannya, saat melihat seseorang mual dan muntah, maka kita pun akan ikut muntah. Hal ini dipengaruhi oleh pikiran, di mana saat melihat sesuatu secara visual, maka hal tersebut dikirimkan secara cepat pada otak dan diproses. Sayangnya justru rasa mual tersebut terbayang terlalu nyata, sehingga otak menganggapnya sebagai perintah. Dan hasilnya, Anda akan ikut muntah.
9. Carcinophobia: takut akan kanker
Carcinophobia atau cancerophobia adalah rasa takut yang teramat sangat akan kanker, dan pada umumnya mereka yang mengalami phobia ini berperilaku berlebihan terhadap rasa sakit yang dialaminya. Jika ia sedang mengalami sakit kepala, maka ia menganggap ia mengidap tumor otak. Sedang saat ia merasa nyeri di dada karena otot yang mungkin terlalu tegang, ia langsung menyimpulkan bahwa itu adalah kanker payudara.
10: Neophobia: rasa takut akan semua hal yang baru
Neophobia ini biasanya muncul saat ia mendapatkan hal baru, misalnya tas baru, teman baru, handphone baru atau rumah baru. Dan mereka cenderung berusaha menolak dan lebih mencintai barang lama mereka.
11. Gerontophobia: rasa takut menjadi tua
Pada umumnya mereka yang mengalami phobia ini sangat protect terhadap kecantikan dan keindahan fisik mereka. Terlebih lagi, mereka berusaha agar terlihat awet muda dan sangat merasa takut jika bertambah tua.
12. Phartophobia: rasa takut buang gas di tempat umum
Mungkin phobia yang satu ini juga sering kita alami, mengingat kita selalu menjaga agar kita tak menjadi bahan tertawaan dan mencemari udara dengan gas alami kita.
13. Odontiatophobia: Rasa takut saat pergi ke dokter gigi
Mereka akan mati-matian berjuang agar tak pergi ke dokter gigi, meskipun mungkin gigi mereka sudah berlubang dan harus ditambal. Hal ini bisa saja terjadi karena mereka pernah trauma di masa kecil, pernah bertemu dengan dokter gigi yang lebih mirip dengan nenek sihir dan galak. Itulah mengapa saat ini dokter gigi selalu menghiasi ruangan mereka dengan benda-benda berupa boneka agar pasien, baik anak-anak maupun dewasa merasa lebih nyaman.
14. Spargarophobic: takut akan asparagus
Entah apa yang ada di dalam benak mereka, tapi memang benar bahwa penderita spargarophobic akan lari terbirit-birit atau berteriak histeris saat ada menu asparagus di piring mereka. Mungkin mereka menganggapnya sebagai UFO atau sesuatu ya?
Masih ada beberapa jenis phobia lain yang tak mungkin dibahas satu per satu di dalam artikel ini. Namun jika Anda atau orang terkasih Anda mengalami phobia, ajaklah ia berkonsultasi dengan para ahli, phobia bukanlah suatu penyakit yang tak dapat sembuh. Phobia adalah suatu ketakutan yang bisa perlahan dihilangkan dengan terapi tertentu.
Berikut berdasarkan info yang didapat ada beberapa perawatan utama untuk mengatasi Phobia, yaitu:

a. Terapi berbicara.
Perawatan ini seringkali efektif untuk mengatasi berbagai fobia. Jenis terapi bicara yang bisa digunakan adalah:
1. Konseling: konselor biasanya akan mendengarkan permasalahan seseorang, seperti ketakutannya saat berhadapan dengan barang atau situasi yang membuatnya fobia. Setelah itu konselor akan memberikan cara untuk mengatasinya.
2. Psikoterapi: seorang psikoterapis akan menggunakan pendekatan secara mendalam untuk menemukan penyebabnya dan memberi saran bagaimana cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
3. Terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioural Therapy/CBT): yaitu suatu konseling yang akan menggali pikiran, perasaan dan perilaku seseorang dalam rangka mengembangkan cara-cara praktif yang efektif untuk melawan fobia.

b. Terapi pemaparan diri (Desensitisation).
Orang yang mengalami fobia sederhana bisa diobati dengan menggunakan bentuk terapi perilaku yang dikenal dengan terapi pemaparan diri. Terapi ini dilakukan secara bertahap selama periode waktu tertentu dengan melibatkan objek atau situasi yang membuatnya takut. Secara perlahan-lahan seseorang akan mulai merasa tidak cemas atau takut lagi terhadap hal tersebut. Kadang-kadang dikombinasikan dengan pengobatan dan terapi perilaku.

c. Menggunakan obat-obatan.
Penggunaan obat sebenarnya tidak dianjurkan untuk mengatasi fobia, karena biasanya dengan terapi bicara saja sudah cukup berhasil. Namun, obat-obatan ini dipergunakan untuk mengatasi efek dari fobia seperti cemas yang berlebihan.

Terdapat 3 jenis obat yang direkomendasikan untuk mengatasi kecemasan, yaitu:
1. Antidepresan: obat ini sering diresepkan untuk mengurangi rasa cemas, penggunaannya dizinkan untuk mengatasi fobia yang berhubungan dengan sosial (social phobia).

2. Obat penenang: biasanya menggunakan obat yang mengandung turunan benzodiazepines. Obat ini bisa digunakan untuk mengatasi kecemasan yang parah, tapi dosis yang digunakan harus serendah mungkin dan penggunaannya sesingkat mungkin yaitu maksimal 4 minggu. Ini dikarenakan obat tersebut berhubungan efek ketergantungan.

3. Beta-blocker: obat ini biasanya digunakan untuk mengobati masalah yang berhubungan dengan kardiovaskular, seperti masalah jantung dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Karena berguna untuk mengurangi kecemasan yang disertai detak jantung tak beraturan.

Kebudayaan Indonesia

Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.
Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”
Pernyataan yang tertera pada GBHN tersebut merupakan penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia sedang mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional terkait dihapuskannya tiga kalimat penjelasan pada pasal 32 dan munculnya ayat yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh kebudayaan daerah jika batasan mengenai kebudayaan nasional tidak dijelaskan secara gamblang.
Sebelum di amandemen, UUD 1945 menggunakan dua istilah untuk mengidentifikasi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan bangsa, ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagi puncak-puncak di daerah-daerah di seluruh Indonesia, sedangkan kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan angsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia yang sudah sadar dan menglami persebaran secara nasional. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional.

Pengertian Kebudayaan – Banyak berbagai definisi tentang kebudayaan yang telah di paparkan oleh para ahli. Dari berbagai definisi dapat diperoleh kesimpulan mengenai pengertian kebudayaan yaitu sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Kata budaya atau kebudayaan itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Secara lebih rinci, banyak hal-hal yang dapat kita pelajari tentang definisi kebudayaan. Bagaimana cara pandang kita terhadap kebudayaan, serta bagaimana cara untuk menetrasi kebudayaan yang faktanya telah mempengaruhi kebudayaan lain.

Definisi Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.


Cara pandang terhadap kebudayaan

  • Kebudayaan Sebagai Peradaban

Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” sebagai lawan kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.

Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang “berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.

Orang yang menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”; bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature).

Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.

Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama – masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

  • Kebudayaan sebagai “sudut pandang umum”
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme – seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria – mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayaan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”

Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.

Pada tahun 50-an, subkebudayaan – kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya – mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan – perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.

  • Kebudayaan sebagai Mekanisme Stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.

Penetrasi kebudayaan
Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:

  • Penetrasi damai (penetration pasifique)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

  • Penetrasi Kekerasan (penetration violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat. Wujud budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada sistem pemerintahan Indonesia.

Bahasa Daerah

Pernah terbanyangkah, oleh kalian.. Berapa banyak Bahasa daerah yg ada di Indoensia.. Bangsa Indonesia memiliki lebih dari 746 bahasa daerah dan 17.508 pulau.

 "Bahasa daerah itu memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan suatu daerah sehingga wajib untuk dilestarikan agar tidak punah dimakan kemajuan zaman," 


"Bahasa-bahasa daerah atau minoritas" adalah bahasa-bahasa yang:
  1. secara tradisional digunakan dalam wilayah suatu negara, oleh warga negara dari negara tersebut, yang secara numerik membentuk kelompok yang lebih kecil dari populasi lainnya di negara tersebut; 
  2. Berbeda dari bahasa resmi (atau bahasa-bahasa resmi) dari negara tersebut

  • Bahasa daerah merupakan bahasa nenek-moyang.
  • Bahasa daerah merupakan bagian dari kebudayaan dan identitas kita.
  • Bahasa daerah merupakan kunci adat kita.
  • Bahasa daerah merupakan alat untuk mengerti dunia.
  • Bahasa daerah memberikan dasar yang kuat supaya orang bisa bertumbuh dan menjelajahi dunia.

Adapun, beberapa Bahasa Daerah yg berhasil Penulis catat dan data:
  1. Bahasa Aceh Digunakan di Wilayah Sumatera
  2. Bahasa Alas Digunakan di Wilayah Sumatera
  3. Bahasa Alor Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  4. Bahasa Ambelan Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  5. Bahasa Angkola Digunakan di Wilayah Sumatera
  6. Bahasa Aru Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  7. Bahasa Bacan Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan
  8. Bahasa Bada' Besona Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
  9. Bahasa Bahau Digunakan di Wilayah Kalimantan
  10. Bahasa Bajau Digunakan di Wilayah Kalimantan
  11. Bahasa Balantak Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
  12. Bahasa Bali Digunakan di Wilayah Bali
  13. Bahasa Banda Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  14. Bahasa Banggai Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
  15. Bahasa Banjar Digunakan di Wilayah Kalimantan
  16. Bahasa Bantik Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
  17. Bahasa Batak Digunakan di Wilayah Sumatera
  18. Bahasa Belu Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  19. Bahasa Bobongko Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
  20. Bahasa Bonerate Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
  21. Bahasa Bugis Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
  22. Bahasa Bulanga Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gorontalo
  23. Bahasa Bungkumori Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
  24. Bahasa Buol Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate
  25. Bahasa Buru Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  26. Bahasa Butung Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
  27. Bahasa Enggano Digunakan di Wilayah Sumatera
  28. Bahasa Gayo Digunakan di Wilayah Sumatera
  29. Bahasa Geloli Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  30. Bahasa Goram Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  31. Bahasa Gorontalo Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate
  32. Bahasa Helo Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  33. Bahasa Iban Digunakan di Wilayah Kalimantan
  34. Bahasa Jawa Digunakan di Wilayah Jawa
  35. Bahasa Kadang Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  36. Bahasa Kai Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  37. Bahasa Kaidipan Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate
  38. Bahasa Kail Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
  39. Bahasa Kaisar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  40. Bahasa Kalaotoa Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
  41. Bahasa Karo Digunakan di Wilayah Sumatera
  42. Bahasa Karompa Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
  43. Bahasa Kayan Digunakan di Wilayah Kalimantan
  44. Bahasa Kenya Digunakan di Wilayah Kalimantan
  45. Bahasa Klemautan Digunakan di Wilayah Kalimantan
  46. Bahasa Kroe Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  47. Bahasa Kubu Digunakan di Wilayah Sumatera
  48. Bahasa Lain Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  49. Bahasa Laki Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
  50. Bahasa Lampung Digunakan di Wilayah Sumatera
  51. Bahasa Landawe Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
  52. Bahasa Layolo Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
  53. Bahasa Leboni Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
  54. Bahasa Leti Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  55. Bahasa Loinan Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
  56. Bahasa Lom Digunakan di Wilayah Sumatera
  57. Bahasa Luwu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
  58. Bahasa Madura Digunakan di Wilayah Jawa
  59. Bahasa Makassar Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
  60. Bahasa Mandailing Digunakan di Wilayah Sumatera
  61. Bahasa Mandar Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
  62. Bahasa Mapute Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
  63. Bahasa Melayu Digunakan di Wilayah Kalimantan
  64. Bahasa Melayu Digunakan di Wilayah Sumatera
  65. Bahasa Mentawai Digunakan di Wilayah Sumatera
  66. Bahasa Milano Digunakan di Wilayah Kalimantan
  67. Bahasa Minangkabau Digunakan di Wilayah Sumatera
  68. Bahasa Mongondow Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
  69. Bahasa Napu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
  70. Bahasa Nias Digunakan di Wilayah Sumatera
  71. Bahasa Orang Laut Digunakan di Wilayah Sumatera
  72. Bahasa Ot-Danum Digunakan di Wilayah Kalimantan
  73. Bahasa Pak-Pak Digunakan di Wilayah Sumatera
  74. Bahasa Pantar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  75. Bahasa Pilpikoro Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
  76. Bahasa Pitu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
  77. Bahasa Rejang Lebong Digunakan di Wilayah Sumatera
  78. Bahasa Riau Digunakan di Wilayah Sumatera
  79. Bahasa Roma Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  80. Bahasa Rote Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  81. Bahasa Sa'dan Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
  82. Bahasa Salu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
  83. Bahasa Sangir Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
  84. Bahasa Sasak Digunakan di Wilayah Bali
  85. Bahasa Sasak Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Barat
  86. Bahasa Sasak Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
  87. Bahasa Seko Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
  88. Bahasa Sikule Digunakan di Wilayah Sumatera
  89. Bahasa Simulur Digunakan di Wilayah Sumatera
  90. Bahasa Solor Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  91. Bahasa Sula Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan
  92. Bahasa Sumba Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Barat
  93. Bahasa Sumbawa Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
  94. Bahasa Sunda Digunakan di Wilayah Jawa
  95. Bahasa Talaud Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
  96. Bahasa Taliabo Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan
  97. Bahasa Tambulu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
  98. Bahasa Tanibar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timu
  99. Bahasa Ternate Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Utara
  100. Bahasa Tetun Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
  101. Bahasa Tetun Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  102. Bahasa Tidore Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Utara
  103. Bahasa Timor Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
  104. Bahasa Timor Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  105. Bahasa Tombatu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
  106. Bahasa Tomini Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Tomoni
  107. Bahasa Tompakewa Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
  108. Bahasa Tondano Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
  109. Bahasa Tontembun Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
  110. Bahasa Toraja Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
  111. Bahasa Uluna Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
  112. Bahasa Walio Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
  113. Bahasa Wetar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
  114. Bahasa Windesi Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Selatan
  115. Bahasa Wotu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja

                                                                                                                                                                                                                                        Maka dari itu, Kita harus Bangga menjadi Warga Negara Indonesia.. Baca juga tentang "Bangga menjadi Warga Negara Indonesia, DISINI, DISINI dan DISINI..