Rabu, 13 Februari 2013

Ikhtiar

Ikhtiar adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Ikhtiar juga dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Akan tetapi, usaha kita gagal, hendaknya kita tidak berputus asa. Kita sebaiknya mencoba lagi dengan lebih keras dan tidak berputus asa. Kegagalan dalam suatu usaha, antara lain disebabkan keterbatasan dan kekurangan yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Apabila gagal dalam suatu usaha, setiap muslim dianjurkan untuk bersabar karena orang yang sabar tidak akan gelisah dan berkeluh kesah atau berputus asa. Agar ikhtiar atau usaha kita dapat berhasil dan sukses, hendaknya melandasi usaha tersebut dengan niat ikhlas untuk mendapat ridha Allah, berdoa dengan senantiasa mengikuti perintah Allah yang diiringi dengan perbuatan baik, bidang usaha yang akan dilakukann harus dikuasai dengan mengadakan penelitian atau riset, selalu berhati-hati mencari teman (mitra) yang mendukung usaha tersebut, serta memunculkan perbaikan-perbaikan dalam manajemen yang professional.


Ikhtiar berasal dari bahasa Arab (إخْتِيَارٌ) yang berarti mencari hasil yang lebih baik. Adapun secara istilah, pengertian ikhtiar yaitu  usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Maka, segala sesuatu baru bisa dipandang sebagai ikhtiar yang benar jika di dalamnya mengandung unsur kebaikan. Tentu saja, yang dimaksud kebaikan adalah menurut syari’at Islam, bukan semata akal, adat, atau pendapat umum. Dengan sendirinya, ikhtiar lebih tepat diartikan sebagai “memilih yang baik-baik”, yakni segala sesuatu yang selaras tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Ikhtiar juga dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Akan tetapi, jika usaha kita gagal, hendaknya kita tidak berputus asa. Kita sebaiknya mencoba lagi dengan lebih keras dan tidak berputus asa. Kegagalan dalam suatu usaha, antara lain disebabkan keterbatasan dan kekurangan yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Apabila gagal dalam suatu usaha, setiap muslim dianjurkan untuk bersabar karena orang yang sabar tidak akan gelisah dan berkeluh kesah atau berputus asa. Agar ikhtiar atau usaha kita dapat berhasil dan sukses, hendaknya melandasi usaha tersebut dengan niat ikhlas untuk mendapat ridha Allah, berdoa dengan senantiasa mengikuti perintah Allah yang diiringi dengan perbuatan baik, bidang usaha yang akan dilakukan harus dikuasai dengan mengadakan penelitian atau riset, selalu berhati-hati mencari teman (mitra) yang mendukung usaha tersebut, serta memunculkan perbaikan-perbaikan dalam manajemen yang professional.



Setiap manusia memiliki keinginan dan cita-cita untuk mendapat kesuksesan, tak ada seorang pun yang menginginkan kegagalan. Hal ini karena Allah menganugerahkan kehendak kepada manusia. Jika kehendak tersebut mampu dikelola dengan baik, manusia akan menemukan kesuksesannya.
 “ (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui ” (QS.Ash-Shaff:11)

Larangan Berputus Asa
Allah telah mencontohkan kisah Nabi  Ya’qub dalam Al-Qur’an sebagai contoh nyata pelajaran orang-orang yang ditimpa kesusahan dan larangan berputus asa. Nabi Ya'qub yang terus berdo'a dan berharap pada Tuhannya setiap saat agar tidak termasuk orang-orang yang berputus asa, karena berputus asa pada kebaikan Tuhan adalah sifat-sifat orang yang kafir.
Kisah itu digambarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 87 يَابَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

”Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”. (QS: Yusuf: 87)
Tak ada cara lain, mari kita palingkan semua pada Islam. Berikhtiarlah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita, yakni: dengan memilih jalan-jalan keluar yang baik-baik dan yang diridhoi Allah Subhanahu wa-ta'ala.

Berikut rambu-rambu ikhtiar dalam Islam : 
  • Keikhlasan Niat Saja Tidak Cukup
Banyak orang bilang dalam berusaha yang penting niatnya baik, apapun yang kita lakukan harus diikuti niat yang ikhlas. Memang Rasulullah sendiri telah menyatakan dalam satu haditsnya, "'Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. " (HR.Bukhari-Muslim). Tapi dalam hadits yang lain Rasulullah juga menyatakan, "Barangsiapa mengerjakan suatu amalan (perbuatan) yang bukan berdasarkan perintah kami, maka ia tertolak. " (HR. Muslim).

Jadi, agar perbuatan baik atau ikhtiar kita diterima oleh Allah dan mendapatkan pahala dari-Nya, harus memenuhi dua syarat mutlak. Yaitu niat yang ikhlas dan sesuai dengan syariat Islam. Niat yang ikhlas saja tidak cukup, bila kita ingin apa yang kita ikhtiarkan diterima oleh Allah dan diridhoi-Nya. Begitu juga cara kita berikhtiar, walaupun sudah sesuai dengan syariat Islam, tapi tidak disertai niat yang ikhlas dalam melaksanakannya, niscaya Allah akan menolaknya.

Pergi ke dukun untuk mencari solusi dari segala macam permasalahan yang kita hadapi, bukanlah termasuk usaha yang dibenarkan oleh syariat Islam, kendati pun kita niatkan dengan niat yang setulus-tulusnya dan seikhlas-ikhlasnya. Karena kedatangan kita ke tempat praktik perdukunan itu sendiri telah melanggar syariat Islam. Keikhlasan niat atau baiknya tujuan tidak akan merubah suatu yang maksiat menjadi ibadah, atau suatu yang haram menjadi halal. Karena Rasulullah telah melarang kita untuk mendatangi dukun, "Janganlah kalian mendatangi dukun". (HR. Bukhari).

Larangan ini disampaikan Rasulullah untuk memberitahukan kepada umatnya, bahwa berikhtiar melalui dukun bukanlah termasuk ikhtiar yang dibenarkan alias haram hukumnya. Dalam riwayat lain, lebih keras lagi Rasulullah mengancam mereka yang memanfaatkan jasa perdukunan, "Barangsiapa yang mendatangi dukun, lalu membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah inkar (kufur) terhadap apa telah diturunkan kepada Nabi Muhammad (al-Qur'an dan al-Hadits)." (HR.Ahmad dan dishahihkan oleh al-Alban).
  • Bersih dari Kesyirikan
Orang yang mati dalam keadaan musyrik dan belum bertaubat, maka Allah tidak akan mengampuni dosanya dan mengharamkan baginya untuk masuk Surga. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selainnya bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, berarti sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (An-Nisa': 48). Dalam ayat yang lain Allah berfirman, " Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, niscaya Allah mengharamkan baginya Surga dan tempat baginya adalah Neraka." (Al-Maidah: 72).

Pergi ke dukun untuk mendapatkan jalan keluar dari berbagai macam problema kehidupan, berarti melakukan ikhtiar yang mengandung syirik. Walaupun kita tetap berkeyakinan bahwa hanya Allah sebagai Penolong atau Penyembuh. Karena kenyataannya, tidaklah para dukun itu memberikan solusi kepada pasiennya, kecuali telah melakukan ritual yang mengandung syirik atau solusi yang ditawarkan itu sendiri bermuatan syirik. Dengan begitu berarti kita secara sadar atau tidak, telah bersekongkol dengan mereka untuk melakukan kesyirikan. Bahkan orang yang minta bantuan dukun itu sendiri juga sebagai pelaku kesyirikan.

Misalnya, pasien tersebut diajak ikut serta mengikuti ritual dan di dalamnya ada mantra syirik yang harus dibaca, atau disuruh oleh dukun tersebut untuk melakukan ritual sendiri. Seperti mandi air kembang tujuh rupa atau diruwat untuk menghilangkan sial. Atau “hanya” sekadar beli jimat, rajah dan pusaka 'keramat' untuk dipasang di rumah, kantor, tempat usaha atau di dompet untuk dibawa kemana saja dia pergi. Itulah bentuk kesyirikan yang biasanya dilakukan oleh orang yang minta bantuan dukun. Orang yang telah melakukan tindakan tersebut kalau tidak segera bertaubat pasti akan merugi. Jika mati, niscaya kematiannya merupakan pintu gerbang baginya untuk masuk neraka, na 'udzu billahi.
  • Tidak Mengandung Unsur Haram
Sesuatu yang haram adalah momok bagi seorang muslim, kalau berupa makanan, dikhawatirkan dari makanan yang haram tersebut tumbuh menjadi daging. Daging yang tumbuh dari barang haram akan dipanggang di neraka. Doa yang dipanjatkan tidak pernah didengar Allah., "Makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan perutnya dikenyangkan dengan konsumsi haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan. " (HR. Muslim).

Dalam masalah berobat dan mencari kesembuhan juga begitu, kita harus menjauhi hal-hal yang diharamkan. Rasulullah bersabda "Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, dan telah menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian, tapi janganlah berobat dengan suatu yang diharamkan. " (HR. Abu Daud). Pergi ke dukun untuk berobat atau mencari solusi dari permasalahan yang kita hadapi, adalah merupakan upaya yang haram, karena Rasulullah telah melarangnya.
  • Jangan Melalaikan Allah
Abu Khuzamah berkata, "Wahai Rasulullah, Apa pendapat Anda tentang ruqyah untuk mengobati penyakit, obat yang kita pakai untuk mengobati penyakit dan ketaqwaan kepada Allah yang kita lakukan. Apakah bisa menolak taqdir Allah (menyembuhkan penyakit)? Beliau menjawab: Itu semua juga merupakan taqdir Allah. " (HR. Tirmidzi).

Tiga ikhtiar yang dihalalkan dalam hadits di atas. Pertama, ruqyah yang sudah dicontohkan Rasulullah adalah upaya pengobatan yang bebas dari kesyirikan, sebagai pengganti dari upaya pengobatan yang mengandung klenik dan mistik. Kedua, pengobatan medis untuk berobat atau berkonsultasi atas kesehatan kita yang terganggu, juga merupakan ikhtiar yang dibolehkan. Ketiga, ketaatan dan ketaqwaan kita kepada Allah juga sarana yang tepat agar doa kita didengar oleh Allah, diberi solusi untuk mengatasi setiap problema, serta diberi rizki yang halal dan berkah.

Ruqyah, berobat medis, bertaqwa adalah ikhtiar yang dibolehkan dan diperintahkan. Kita hanya berusaha dengan usaha yang tidak diharamkan. Adapun penyembuh dan penyelesai dari segala masalah adalah Allah semata.
Ikhtiar harus dilakukan sekuat tenaga. Tetapi tetap harus diperhatikan rambu-rambu Islam, jangan melalaikan Allah atau melanggar syariatnya agar ikhtiar kita berhasil dan tidak sesat.

Jangan pernah merasa ragu dan lelah dalam berikhtiar dan berdoa kepada Allah SWT. Allah selalu menyaksikan setiap episode yang kita lalui. Allah tahu apa yang kita minta, Allah tahu apa yang kita inginkan, Allah tahu apa yang kita harapkan. Maka hal terbaik yang seharusnya kita minta dari Allah adalah agar Allah memberikan jawaban yang terbaik menurut Allah, bukan menurut kita.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment Using Facebook