Jumat, 08 Maret 2013

Ini baru Namanya "Buah Dada".


Ada buah unik bernama Loofah yang sangat mirip sekali dengan payudara wanita di Vietnam. Buah unik ini berwarna merah muda dengan ukuran yang panjang dengan bagian bawahnya agak membesar yang unik dari buah Loofah ini adalah memeiliki puting seperti puting wanita, jika diperhatikan buah Loofah ini sangat mirip sekali dengan payudara wanita penasaran seperti apa buah ini lihat foto fotonya dibawah ini.








Asma dan Solusinya.

Pada artikel sebelumnya, Ayah_Alif pernah menjelaskan tentang "Penyakit Paru2 dan Solusinya". Namun kini, Ayah_Alif mencoba untuk menjelaskan tentang Penyakit Asma. Penyakit Asma sering kita dapati ketika seseorang sulit untuk bernafas, pada saat demikian mereka memerlukan semacam alat bantu untuk menormalkan lagi pernafasannya. Penyakit asma merupakan penyakit yang terjadi pada gangguan saluran pernafasan, sehingga seseorang akan sulit untuk bernafas. Penyakit asma juga merupakan penyakit turunan, jadi jika anda mengidap penyakit asma maka anak atau cucu anda bisa juga mengidap penyakit tersebut.
Gejala umum yang terjadi pada penderita penyakit asma adalah nafas bunyi. Dimana nafas bunyi bagi penderita asma jika dimalam hari nafasnya lebih kencang dibanding dengan bagi bukan penderita asma. Kemudian gejala umum yang lainnya yaitu sering mengalami sesak nafas.
Berikut ini beberapa penyebab penyakit asma diantara lain adalah sebagai berikut:
Bawaan atau Turunan
Seperti yang sudah dijelaskan diatas kalau penyakit asma merupakan penyakit turunan. Jika dikeluarga kita memiliki riwayat penyakit asma, maka tidak menutup kemungkinan Anda atau anak anda juga akan mengidap penyakit tersebut. Jadi, perlu diketahui kalau penyakit asma itu tidak menular melainkan penyakit turunan.
Oleh karena itu, jika Anda sudah mengetahui kalau diriwayat keluarga kita ada yang mengidap penyakit asma, maka segeralah untuk mengambil tindakan untuk mengobati penyakit asma ini dengan cara berkonsultasi pada dokter spesialis.
Faktor Lingkungan
Lingkungan yang kotor yang dipenuhi dengan debu dan asap merupakan awal dari timbulnya penyakit asma. Debu yang terdapat dirumah maupun ditempat umum lainnya adalah penyebab terjadinya penyakit asma, begitu halnya dengan asap rokok, asap kendaraan dan asap-asap lainnya, kesemuanya itu merupakan faktor terjadinya penyakit asma.
Oleh karena itu, dianjurkan untuk senangtiasa menjaga pola hidup yang sehat. Membersihkan rumah dari debu sesering mungkin dan sebisa mungkin menghindarkan anak dari benda-benda yang mudah pencetus alergi seperti boneka yang berbulu halus maupun bantal atau kasur dari kapok.
Faktor Makanan
Makanan juga menyebabkan timbulnya penyakit asma. Beberapa makanan yang dapat menyebabkan penyakit asma dan perlu untuk dihindari diantaranya adalah makanan junk food yang memiliki kadar MSG dan pengawet yang tinggi, minuman es atau dingin, kacang dan coklat yang mengandung allergen begitu juga dengan kacang tanah.
Udara Dingin
Cuaca suhu dingin juga merupakan faktor timbulnya penyakit asma. Penggunaan AC dengan suhu dan serta cuaca dingin didaerah pegunungan bisa menyebabkan terjadinya penyakit asma.
Beberapa penjelasan tentang penyebab terjadi penyakit asma diatas, itu dapat diobati dengan berkonsultasi kepada dokter ahli, guna mendapatkan tindakan lebih dan pemberian resep obat yang dapat dikonsumsi sehingga kita terhindar dari penyakit asma.

Definisi Asma:
Asma adalah penyakit inflamasi (radang) kronik saluran napas menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan nafas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi (nafas berbunyi ngik-ngik), sesak nafas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam menjelang dini hari. Gejala tersebut terjadi berhubungan dengan obstruksi jalan nafas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversible dengan atau tanpa pengobatan. Seperti diketahui, saluran napas manusia bermula dari mulut dan hidung, lalu bersatu di daerah leher menjadi trakea (tenggorok) yang akan masuk ke paru. Di dalam paru, satu saluran napas trakea itu akan bercabang dua, satu ke paru kiri dan satu lagi ke paru kanan. Setelah itu, masing-masing akan bercabang-cabang lagi, makin lama tentu makin kecil sampai 23 kali dan berujung di alveoli, tempat terjadi pertukaran gas, oksigen (O 2 ) masuk ke pembuluh darah, dan karbon dioksida (CO 2 ) dikeluarkan.
Gambar 1: saluran pernafasan manusia
Seperti diketahui, saluran napas manusia bermula dari mulut dan hidung, lalu bersatu di daerah leher menjadi trakea (tenggorok) yang akan masuk ke paru. Di dalam paru, satu saluran napas trakea itu akan bercabang dua, satu ke paru kiri dan satu lagi ke paru kanan. Setelah itu, masing-masing akan bercabang-cabang lagi, makin lama tentu makin kecil sampai 23 kali dan berujung di alveoli, tempat terjadi pertukaran gas, oksigen (O2) masuk ke pembuluh darah, dan karbon dioksida (CO 2 ) dikeluarkan.
Bagaimana cara mengetahui asma?
Saat anda mendatangi dokter anda untuk konsultasi, dokter anda akan menanyakan mengenai riwayat kesehatan keluarga anda yaitu apakah ada salah seorang anggota keluarga anda yang menderita asma? Pertanyaan ini akan mendukung pendapat mereka untuk melakukan test fungsi paru anda atau test pernafasan untuk menyakinkan hasil pemeriksaan sebelum mereka memberikan resep/obat-obatan dan terapi kepada anda.Test fungsi saluran pernafasan/paru digunakan untuk mengukur kemampuan bernafas anda. Hasil pemeriksaan rontgen paru dapat memperlihatkan jika ada sumbatan pada saluran pernafasan yang merupakan indikasi asma.
Siapa saja yang berisiko asma?
Asma adalah penyakit yang dapat terjadi pada siapa saja dan dapat timbul segala usia, meskipun demikian, umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia dibawah lima tahun dan orang dewasa pada usia sekitar tigapuluh tahunan. Para ahli asma mempercayai bahwa asma merupakan penyakit keturunan dan sebagian besar orang yang menderita asma karena alergi terhadap sumber alergi tertentu.
Gejala Asma
Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak dan suara napas yang berbunyi ngik-ngik dimana seringnya gejala ini timbul pada pagi hari menjelang waktu subuh, hal ini karena pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang kadarnya rendah ketika pagi dan berbagai faktor lainnya.
Penderita asma akan mengeluhkan sesak nafas karena udara pada waktu bernafas tidak dapat mengalir dengan lancar pada saluran nafas yang sempit dan hal ini juga yang menyebabkan timbulnya bunyi ngik-ngik pada saat bernafas. Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan yang terjadi dapat berupa pengerutan dan tertutupnya saluran oleh dahak yang dirpoduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon untuk mengeluarkan dahak tersebut. Gambar dibawah ini adalah gambar penampang paru dalam keadaan normal dan saat serangan asma.
Salah satu ciri asma adalah hilangnya keluhan di luar serangan. Artinya, pada saat serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita (banyak batuk, sesak napas hebat dan bahkan sampai seperti tercekik), tetapi di luar serangan dia sehat-sehat saja (bisa main tenis 2 set, bisa jalan-jalan keliling taman, dan lain-lain). Inilah salah satu hal yang membedakannya dengan penyakit lain (keluhan sesak pada asma adalah revesibel, bisa baik kembali di luar serangan, sementara pada PPOK adalah irreversible , tetap saja sesak setiap waktu).
Faktor Pencetus Serangan Asma
A. Faktor penjamu, faktor pada pasien
  • Aspek genetik
  • Kemungkinan alergi
  • Saluran napas yang memang mudah terangsang
  • Jenis kelamin
  • Ras/etnik
B. Faktor lingkungan
  1. Bahan-bahan di dalam ruangan :
    • Tungau debu rumah
    • Binatang, kecoa
  2. Bahan-bahan di luar ruangan
    • Tepung sari bunga
    • Jamur
  3. Makanan-makanan tertentu, Bahan pengawet, penyedap, pewarna makanan
  4. Obat-obatan tertentu
  5. Iritan (parfum, bau-bauan merangsang, household spray )
  6. Ekspresi emosi yang berlebihan
  7. Asap rokok dari perokok aktif dan pasif
  8. Polusi udara dari luar dan dalam ruangan
  9. Infeksi saluran napas
  10. Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik tertentu.
  11. Perubahan cuaca
2.gif3.gif4.gif5.gif6.gif1.gif
Bagaimana asma diobati?
Pada dasarnya penanganan asma yang paling efektif adalah dengan menghindari faktor-faktor pencetus asma dan menggunakan obat asma untuk mengurangi pembengkakan saluran pernafasan. Pengobatan asma secara cepat/jangka pendek yaitu dengan menggunakan ob at pelega saluran pernafasan seperti inhaler dan nebulizer yang berfungsi menghentikan serangan asma. Pengobatan jangka panjang yang berfungsi untuk mencegah terjadinya serangan asma adalah dengan menggunakan obat-obatan seperti steroid berfungsi untuk tetap membuat saluran pernafasan terbuka dan menggurangi pembengkakan.
Bagaimana asma dimonitor?
Anda dapat memonitor asma dirumah dengan menggunakan alat yang disebut "Peak Flow Meter". Alat ini akan memperlihatkan ukuran kecepatan maksimal udara yang dapat dihembuskan oleh paru-paru anda. Dengan memonitor puncak hembusan nafas anda setiap hari, anda dapat memprediksi dan mengambil tindakan pencegahan agar tidak mengalami serangan asma.
PERTOLONGAN DARURAT
Jika salah seorang sahabat dekat anda atau saudara anda mengalami serangan asma tiba-tiba ada 4 langkah pertolongan pertama yang dapat anda lakukan yaitu:
  • Bantu penderita asma untuk duduk tegak dan tenang
  • Beri mereka obat inhaler untuk membantu mereka bernafas, beri 4 kali semprotan secara bertahap.
  • Tunggu selama 4 menit.
  • Jika hanya ada sedikit perubahan atau bahkan tidak ada perubahan sama sekali, ulangi lagi pemberian inhaler 4 semprotan dan tunggu kembali selama 4 menit.
  • Jika masih tidak ada perubahan segerah hubungi rumah sakit/klinik terdekat, sambil terus berikan penderita obat inhaler hingga ambulan tiba.


Kamis, 07 Maret 2013

Meminta Ma'af VS Mema'afkan.


Antara “Kumaafkan” dengan “Maafkan aku”

Mana yang utama antara “minta maaf“ dengan “memberi maaf“ ? Jawabannya tergantung kebutuhan…tapi bila ditilik dari sisi syariah “memberi maaf” lebih utama daripada “minta maaf”, mengapa?

Memang dalam kehidupan sehari-hari, ketika ada sebuah perselisihan, dianggap selesai bila ada salah satu yang berselisih mendahului untuk meminta maaf, dan akhirnya keluarlah pemberian maaf. Dan ada sebuah imej bahwa kalau belum minta maaf tidak dianggap “jantan” atau “gentle” (saya bingung, kalau yang minta maafnya wanita, apakah dikatakan ‘gentle” juga ya…?). Ya…ketika ada yang meminta maaf, ada sebuah pengakuan secara tidak langsung bahwa yang bersangkutan mengakui sebuah kesalahan terhadap orang lain yang kebetulan terkena sebuah kesalahan dari sang peminta maaf. Dan sebaliknya, yang memberi maaf, adalah orang yang dianggap diakui kebenarannya, dan yang terkena dampak sebuah kesalahan.

Ada sedikit anehdot…seorang yang terinjak kakinya di dalam kendaraan umum, lalu ia menyadari kakinya terinjak dan berkata kepada yang menginjak, “maaf Pak, kaki saya terinjak kaki Bapak” atau “maaf, kaki Bapak menginjak kaki saya” atau “maaf…”, sambil menarik kakinya yang terinjak. Yang terkena dampak sebuah kesalahan yang mana dan yang harus minta maaf siapa… . Atau cara sedikit kasar…”Hai…kaki saya jangan diinjak!” , langsung yang menginjak kaki “minta maaf”. Atau cerita lain, “maaf Pak, matikan api rokoknya…” atau “maaf…saya terganggu dengan asap rokok Bapak…”, dijamin dah si perokok akan mengekspresikan sebuah ketidak sukaan terhadap larangan tersebut, kalau tidak malah diusir untuk tidak dekat-dekat dengan si perokok dengan alasan sebuah kenikmatan dan “hak azazi”

Secara psikologi, psikologis orang yang minta maaf, biasanya minta maaf agar kesalahan orang lain yang dampaknya terkena dirinya tidak terulang atau tidak lama mengenai dirinya, alias memutus rantai kesengsaraan. Dan secara psikologis orang yang diminta kemaafannya, ada sedikit kesuperioran diri, minimal “merasa” benar. Kalaupun memang benar, ia tidak akan memulai dengan permohonan maafnya, kecuali didahului dengan permintaan maaf terhadap dirinya dan akhirnya…ia pun minta maaf. Muncullah “saling memaafkan” …kosong – kosong… .

Makna memberi maaf sebenarnya adalah seseorang mempunyai hak, tapi orang tersebut melepaskan haknya, yaitu tidak menuntut qishash atasnya tidak juga menuntut denda kepadanya, maka tidak salah jika memaafkan adalah sifat luhur yang dimiliki oleh seorang muslim yang benar bertakwa dan menerapkan petunjuk agamanya, banyak nash-nash yang menganjurkan manusia menghiasi dirinya dengan sifat pemaaf yang merupakan sikap ideal bagi umat Islam, nash-nash tersebut mengkategorikan si pemaaf sebagai orang baik dan beruntung karena mendapat ridhaNya

Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti dalam firman-Nya :"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran: 134)

Dengan memaafkan berarti kita telah mampu menahan rasa amarah, bahkan terbebas dari rasa dengki maupun iri hati, yang merupakan cerminan dari kebeningan hati dan jiwanya dan paling utama adalah mereka mendapat kecintaan dan keridhaan-Nya, dengan memaafkan pula berarti kita telah melepaskan beban yang ada pada diri serta menyerahkan sepenuhnya kepada kekuatan yang maha dahsyat dari Allah Azza wa Jalla

Tidak mudah memang jadi seorang yang memiliki sikap pemaaf, karena sikap pemaaf dan toleransi merupakan tingkatan yang sangat tinggi yang tidak bisa dicapai kecuali orang yang membuka hatinya untuk menerima petunjuk Islam serta menghiasi jiwanya dengan akhlak Islam, mereka itulah yang selalu memohon ampunan, pahala dan kemuliaan dari Allah Azza wa Jalla.

Sungguh indah cara yang digunakan Al Qur’an dalam mengapresiasi dan mengangkat jiwa kemanusiaan ketingkat yang tinggi, Al Quran menetapkan bahwa orang-orang yang didzalimi boleh membela diri dan membalas dengan balasan atas kejahatan serupa, tetapi Al Quran tidak membiarkan kebencian dan balas dendam menguasai jiwa manusia tetapi sikap kelembutanlah lebih diutamakan, yang akan membawa pada sikap memaafkan dan toleransi, Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:

“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS. Asy-Syuura: 39-43)

Kejahatan apabila disikapi ataupun dibalas dengan kejahatan akan menyulut api permusuhan serta kedengkian yang akan bermuara pada dendam kesumat dan kebencian yang mendalam tetapi sebaliknya jika kejahatan dibalas dengan kebaikan berarti telah mampu memadamkan kobaran api permusuhan, kebencian dan rasa dengki, serta merubah sikap permusuhan menjadi persahabatan dan persaudaraan yang dipenuhi dengan senyum keceriaan, merubah rasa emosi menjadi kesabaran dan cinta kasih, itulah akhlak seorang mukmin sejati dalam masyarakat muslim selalu menahan amarah, mengendalikan emosi, memberikan maaf serta bersikap toleran antar sesama

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushshilat: 34)

"Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’raf: 199)

Akhlak seperti ini adalah ciri-ciri akhlak Rabbani yang mencakup secara keseluruhan dimana kejahatan bukan dibalas dengan kejahatan melainkan dibalas dengan akhlak karimah berupa pemaafan dan kebaikan

Sifat pemaaf Rasulullah telah mengakar kuat didalam diri beliau yang mulia. Ada sebuah cerita ketika seorang wanita yahudi menghadiahkan daging kambing beracun kepada Rasulullah, kemudian beliau makan sedikit yang diikuti oleh sebagian sahabat, kemudan Rasulullah berkata pada para sahabat  
“Hentikanlah, jangan makan daging ini beracun” kata Rasulullah kepada para Sahabat, selanjutnya wanita yahudi tersebut dibawa kehadapan Rasulullah.
“apa yang menyebabkan kamu berbuat seperti ini?” Tanya Rasulullah  
“Aku ingin tahu, jika engkau seorang Nabi, kami akan tenang dari gangguanmu.” Jawab wanita Yahudi itu.
“bukankah kita harus membunuhnya?” Seru para sahabat
“Tidak!”, jawab Rasulullah, maka wanita tersebut dibebaskan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  telah menanamkan kedalam diri kaum muslim sifat pemaaf dan toleran, meskipun diperlakukan jahat dan didzalimi, itulah sikap utama yang dimiliki Rasulullah, terbukti cara tersebut menjadi media yang ampuh dalam berdakwah, Rasulullah mengetahui bahwa orang-orang akan lebih bisa menerima dakwahnya dengan kelembutan dan toleransi bukan dengan cara kekerasan, kekasaran dan intimidasi.

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT”. Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, sebab itu mustahil kecuali Rasulullah SAW yang ma’shum (senantiasa dalam bimbingan Allah SWT). Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.

Sebagai penutup saya ingin sampaikan bahwa Allah Azza wa Jalla Maha Pengampun dan Maha Pemaaf, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim pada kita, semoga kita tetap rendah hati menyadari bahwa manusia tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan maka sikap saling memaafkan adalah sikap yang luhur yang dianjurkan di Islam

Meminta Ma'af

Artikel ini, sebenarnya masih berkaitan dengan artikel sebelumnya (Marah dan Cara Mengendalikannya)Tak ada satu orangpun yang sempurna di dunia ini, semua pasti mempunyai kesalahan dan pernah berbuat kesalahan dengan seseorang. Dan yang paling penting adalah bagaimana menyadari kesalahan, meminta maaf dan tak mengunlanginya lagi. Banyak cara dilakukan dilakukan untuk mendapatkan maaf dari orang yang telah anda sakiti. Dan tips dan trick pada kesempatan kali ini Ayah_Alif akan mencoba menyajikan "Meminta Ma'af".  Dan hal ini bisa dikaitkan membantu anda dalam menjalankan tips kesehatan karena pada sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa meminta maaf dengan cara yang tulus dapat membantu Anda mengurangi stres dan mengurangi rasa bersalah.


Salah satu sisi negatif kehidupan modern adalah munculnya masyarakat yang egois. Hampir semua orang disibukkan oleh urusannya sendiri, dan tak peduli dengan urusan orang lain. Bila ada urusan pribadinya yang terganggu sedikit saja, muncul alasan untuk marah, membalas, atau mendendam.

Padahal, dengan cara seperti itu, ia malah akan menanggung dua beban sekaligus. Pertama, beban atas gangguan orang lain. Kedua, beban marah yang tersimpan di dalam dadanya.

Islam mengajarkan kepada kita untuk membebaskan diri dari segala bentuk beban yang tidak perlu. Kita harus memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan hawa nafsu yang merusak dan membebani. Kita buang beban itu dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memaafkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,” Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (Al-A’raf [7]: 199)

Meski Dizalimi

Seperti diriwayatkan oleh Ath-Thabari, ketika ayat di atas diturunkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) meminta penjelasan kepada Jibril tentang maksud dan kandungannya.

Jibril kemudian menjawab, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan agar engkau memaafkan, sekalipun kepada orang yang menganiayamu (agar engkau) memberi kepada orang yang menahan pemberiannya, dan (agar engkau) menyambung silaturahim, meskipun kepada orang yang sengaja memutuskannya.”

Dalam kisah yang diriwayatkan Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah memuji seorang bernama Abu Dhamdham di depan para Sahabat. “Apakah kalian mampu berbuat seperti yang dilakukan Abu Dhamdham?” kata Rasulullah SAW. Para Sahabat kemudian bertanya, “Apakah yang dilakukan Abu Dhamdham wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang ketika bangun pagi selalu mengucapkan doa, ‘Ya Allah, saya berikan jiwa dan nama baik saya. Jangan dicela orang yang mencela saya dan janganlah dizalimi orang yang menzalimi saya , serta jangan dipukul orang yang memukul saya,’.”

Alangkah mulianya ajaran Islam ini bila diterapkan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. Selain mulia, memaafkan juga bisa mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, keengganan untuk memaafkan hanya akan melahirkan kesengsaraan, karena membiarkan diri disakiti terus-menerus oleh diri kita sendiri.
Untuk itu, maafkanlah orang yang meminta maaf. Maafkan juga orang yang mengajukan pengakuan atas kesalahannya, dan terimalah permintaan maafnya tanpa banyak pertimbangan. Bahkan carikan alasan agar kita bias memaafkannya.

Sebelum Diminta

Al-Qur`an secara spesifik pernah menegur Abu BakarAsh- Shiddiq karena ia telah bersumpah akan memutuskan hubungan kekerabatan dan menghentikan bantuan keuangan yang biasa diberikannya kepada sepupunya, Misthah bin Utsatsah.

Peristiwa ini bukan tanpa alasan. Misthah telah melukai hati Abu Bakar karena ikut serta menyebarluaskan berita bohong (haditsul ifki) tentang ‘Aisyah, putri kesayangannya.

Dalam berita palsu itu disebutkan bahwa ‘Aisyah telah berbuat serong dengan lelaki lain. Siapa yang hatinya tidak marah jika putrinya difitnah seperti itu?

Akan tetapi Allah Ta’ala justru menurunkan ayat secara khusus ditujukan kepada Abu Bakar. Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana disebutkan dalam akhir Surat An-Nuur [24] ayat 22, “… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”

Setelah ayat itu disampaikan oleh Rasulullah SAW, secara spontan Abu Bakar menjawab pertanyaan Allah Ta’ala dengan berdoa, “Ya Allah, aku lebih suka agar Engkau mengampuniku, dan aku sudah memafkannya.”
Abu Bakar memberi maaf kepada sepupunya yang menyebarkan fitnah keji itu sebelum Misthah datang meminta maaf. Baginya, ampunan Allah Ta’ala jauh lebih penting dari pada sekadar permintaan maaf orang lain.
Ia tidak menunggu sepupunya merengek-rengek atau menunduk-nunduk meminta maaf. Meminta maaf atau tidak, ia telah memaafkannya.

Pangkal Pengampunan

Bagi orang yang bertakwa, ampunan Allah Ta’ala berada di atas segala-galanya. Karena itu kita hendaklah meminta ampunan-Nya siang dan malam. Beristighfar dan bertaubatlah kepada-Nya. Salah satu cara mudah meraih ampunan Allah Ta’ala adalah dengan memberi maaf kepada orang lain. Rasulullah SAW, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, berkata, “Barangsiapa memaafkan kesalahan seorang Muslim, maka Allah akan memaafkan kesalahannya.”

Sepanjang bukan menyangkut masalah hudud (hukuman yang diatur oleh Allah Ta’ala), seberapa pun besarnya kesalahan orang lain, kita harus bisa terbuka untuk memaafkannya. Ada dua cara yang efektif untuk memaafkan kesalahan orang lain. Pertama, kita menyadari bahwa manusia itu tempatya salah dan lupa. Kita sendiri sebagai pribadi, juga sering berbuat salah, baik kepada Allah Ta’ala maupun kepada sesama manusia.

Jika kita ingin dimaafkan orang lain, tentu orang lain yang berbuat salah kepada kita juga ingin dimaafkan oleh kita. Jika ada orang yang tidak meminta maaf atas kesalahannya, tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan. Dalam hal ini kita harus berhusnuzhan (baik sangka) kepadanya bahwa dia tidak memahami kesalahannya, atau karena ilmunya yang terbatas, atau mungkin saja persepsinya yang berbeda.

Cara kedua, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala itu Maha Pemaaf dan menyukai orang yang meminta maaf. Jika Allah Ta’ala mudah memberi maaf, mengapa kita pelit memaafkan orang lain?

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada yang lebih suka memaafkan selain Allah. Oleh karena itu, Dia mengutus para Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.” (Riwayat Bukhari).

Begitu besarnya pengampunan Allah Ta’ala sehingga Dia memaafkan orang yang meminta ampunan maupun yang tidak minta ampun. Dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhari disebutkan bahwa ada seorang laki-laki di masa lalu yang memerintahkan anak-anaknya untuk membakar jasadnya jika ia telah mati, lalu menaburkan abunya di hembusan angin. Tujuannya tak lain agar Allah Ta’ala kelak, menurut anggapannya, tidak dapat mengumpulkan kembali abu tersebut dan tidak dapat menyiksanya.

Lalu Allah Ta’ala mengumpulkan abunya, dan menghidupkannya kembali, dan kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ia menjawab, “Karena aku takut kepada-Mu, wahai Tuhanku.” Allah Ta’ala kemudian mengampuninya.

Para Ulama mengomentari Hadits di atas bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa seseorang karena ketidaktahuannya dalam masalah aqidah. Lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita tidak ingin memaafkan kesalahan saudara kita hanya karena ketidaktahuannya atas masalah yang lebih sepele dibanding kejadian di atas?

Al-Qur`an bahkan menyebut dengan tiga tindakan berkaitan dengan pemaafan dalam keluarga, yaitu ta’fu (memaafkan), tasfahu (tidak mengeluarkan kata-kata yang identik dengan mencela), dan taghfiru (memohonkan ampunan kepada Allah Ta’ala untuk mereka). Sesungguhnya ada seribu satu alasan untuk memaafkan, sebagaimana ada seribu satu alasan untuk tidak memaafkan. Hanya saja, sebagai orang yang telah digembleng oleh Ramadhan, kita tentu lebih memilih untuk memaafkan.

Sebab, itulah ciri-ciri orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Ali Imran [3] ayat 133-134 bahwa, “ … (orang yang bertakwa) yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang- orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. “
Alangkah angkuhnya kita jika tidak mau memaafkan saudara kita. Padahal, dengan memaafkan, berarti kita menyenangkan hati orang lain, memusnahkan benih kejahatan, menghilangkan kedengkian, dan membantu orang lain untuk bertobat.


Tidak peduli betapa mengagumkan Anda, kadang-kadang Anda akan melakukan sesuatu yang salah, dan orang-orang akan marah kepada anda. Saat itulah Anda perlu melakukan hal kecil yang disebut 'meminta maaf'. Justru ketika Anda mengakui bahwa Anda melakukan kesalahan dan kemudian minta maaf untuk itu. Tapi kadang-kadang hanya dengan mengatakan kata 'maaf' tidak cukup. Namun anda harus benar-benar perlu kesungguhan dari dalam hati. Jika Anda sudah benar-benar kacau, dan mengakui bahwa mengatasi masalah itu bisa jadi sulit. Dalam posting sebelumnya kenzoo hadirkan Tips dan Trick Meminta Maaf Pada Pacar, maka kali ini lebih bersifat umum dan inilah  Cara Meminta Maaf Yang Sempurna, tidak peduli apa yang telah Anda lakukan:
  • Bertanggung Jawab. Ketahuilah bahwa jika seseorang marah dengan Anda, kemungkinan untuk alasan yang baik, anda sebaiknya meluangkan waktu untuk merenungkan apa yang mungkin telah anda lakukan mungkin sudah mengganggu mereka. Jika Anda tidak melakukan sesuatu yang salah, maka jangan meminta maaf. Tapi, jika Anda memiliki kesalahan tersebut maka, lanjutkan ke langkah dua.
  • Segera Meminta Maaf. Jika Anda telah melakukan sesuatu yang tidak pantas, jangan mencoba untuk membenarkan posisi Anda dalam pikiran Anda. Biarkan orang lain cepat mengetahui bahwa Anda tidak bermaksud mengecewakan mereka. Idealnya, melakukan hal ini face-to-face yang paling kuat atau melalui telepon jika mereka tinggal jauh. Hindari melakukannya dalam email atau melalui Facebook dan juga SMS. Pembicaraan langsung sangatlah penting karena dengan begitu mereka akan mengetahui tentang bagaimana rasa penyesalan anda yang bisa dilihat dari raut wajah dan suara. Anda bisa memberikan Kata Ajaib Untuk Membuka Pintu Hati jika mereka adalah orang-orang yang anda cintai.
  • Sadar Akan Kemarahannya. Perjelaslah bahwa anda sangat menyesali perbuatan anda dan mengakui kurangnya kesadaran anda yang telah menyakiti mereka. Anda perlu untuk menjelaskan sendiri, hanya melakukannya dan menunjukkan bahwa Anda tidak bermaksud mengecewakan mereka. Jangan mencoba untuk membawa perasaan agar dikasihani, membuat diri Anda merasa lebih baik atau merubah rencana anda untuk meminta maaf. ini merupakan salah satu Cara Meminta Maaf Yang Sempurna dengan tidak melipatkan orang lain atau pihak ketiga. Jadilah diri anda sendiri bukan dari orang lain.
  • Minta pengampunan. Ketika Anda meminta pengampunan, biarkan mereka tahu bahwa Anda tidak akan melakukannya lagi dan sangat menyesali perbuatan dan sikap yang telah anda lakukan. Jika mereka menerima permintaan maaf Anda, segera ucapkan terimakasih dan tetap melanjutkan hubungan baik anda, bukan mengahirinya, Namun, anda juga harus menerima jika mereka menginginkan semuanya berakhir. Ini adalah resiko hukumandari kesalahan yang telah anda lakukan.
  • Memaafkan diri sendiri. Jika mereka tidak menerima permintaan maaf Anda, maka tidak ada lagi yang dapat Anda lakukan. Apakah mereka melakukan atau tidak menerima permintaan maaf Anda, Anda harus membiarkannya pergi. Rasa bersalah ini hanya akan merugikan Anda secara internal, sehingga memaafkan diri sendiri adalah pilihan yang bijak dan tentunya anda bisa belajar dari pengalaman tersebut utnuk bersikap lebih baik kemudian harinya.
Kita pernah "DILUKAI"
dan mungkin pernah "MELUKAI"
tapi karena itu kita BELAJAR
tentang bagaimana cara menghargai, menerima, berkorban dan memperhatikan.

Kita pernah "DIBOHONGI"
dan mungkin pernah "MEMBOHONGI",
tapi dari itu kita belajar tentang KEJUJURAN.

Andaikan kita tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup ini, mungkin kita tidak pernah belajar arti diri MEMINTA MAAF dan MEMBERI MAAF.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan
terulang kembali. Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan,..
yaitu BELAJAR dari masa lalu untuk hari ESOK yang lebih baik.

Hidup adalah proses,
Hidup adalah belajar.
Tanpa ada batas umur,
Tanpa ada kata tua

JATUH, berdiri lagi
KALAH, mencoba lagi
GAGAL, bangkit lagi,
Sampai Allah SWT memanggil:
"Waktunya PULANG"

Nah, agar anda tidak merasa terbebani apakah yang akan anda lakukan bisa membuat orang lain marah, tersinggung atau sakit hati, cobalah untuk bercermin dari apa yang akan anda lakukan. Anda bisa berasumsi bagaimana jika oranglain bersikap dan melakukan suatu tindakan dari apa yang akan anda lakukan terhadap diri anda. Dengan begitu, anda akan mengetahui, apakah tindakan anda menyakiti orang lain atau tidak. Namun ini tidak bisa dijadikan pedoman karena setiap orang mempunyai sikap dan perasaan yang berbeda dengan anda. Setidaknya ini langkah mudah dalam anda melangkah ketahap berikutnya.

Pilihan Hidup. Hidup adalah Pilihan.

Diartikel Ayah_Alif sebelumnya, pernah dibahas tentang "Permasalahan Hidup", dan untuk kali ini, Ayah_Alif ingin membahas tentang Pilihan Hidup dan Hidup Adalah Pilihan.

Hidup adalah pilihan. Ya, itulah kehidupan. Terdiri atas banyak sekali pilihan-pilihan hidup yang seringkali memusingkan kita karena kita tidak akan tahu mana pilihan yang terbaik untuk kita pilih. Kadang memilih sesuatu menjadi tantangan tersendiri yang sulit sekali untuk diputuskan. Seperti misalnya saya di waktu dulu seringkali berada di suatu persimpangan hidup yang mengharuskan untuk memilih, karena kita tidak mungkin memiliki semuanya sekaligus.

Mulai dari memilih sekolah, kuliah, program studi kampus, memilih untuk aktif di suatu organisasi tertentu, hingga memilih untuk membuka bisnis. Masing-masing pilihan tersebut seringkali benar-benar membingungkan dan ‘takut’ jika sewaktu-waktu keputusan yang kita pilih tidak tepat. Namun alhamdulillah, kegalauan tersebut jarang terjadi karena ada loh ternyata cara agar kita bisa memilih dengan tepat. Penasaran bagaimana caranya? Silakan baca lebih lanjut!


Memilih itu memang tidak mudah. Namun dari pengalaman, saya melihat bahwa dalam menyikapi suatu pilihan, yang berperan justru bukanlah alternatif pilihannya, namun bagaimana mental kita bereaksi terhadap pilihan-pilihan tersebut. Intinya, apapun pilihannya, selama mental kita kuat dan positif maka tidak akan menjadi masalah. Justru, sebagus apapun alternatif pilihan kalau orang yang memilih memiliki mental negatif dan buruk, justru pilihan tersebut akan menjadi tidak tepat.

Hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan. Life is choice, sebagaimana senantiasa disampaikan Felix Siauw di tiap kesempatannya memberi nasihat. Kita akan selalu dihadapkan dengan masalah-masalah kehidupan. Selanjutnya adalah pilihan apa yang kita ambil untuk kita jadikan pemecahan atas masalah-masalah itu.

Masalah-masalah kehidupan manusia adalah sama sejak dulu hingga kini, hingga akhir dunia nanti. Manusia memiliki kebutuhan hidup dan naluri-naluri. Keduanya butuh pemenuhan dan solusi. Kebutuhan hidup, seperti: makan, minum, istirahat, buang air, dsb. Naluri-naluri, semisal: ingin eksis, berkasih sayang, dan menyembah serta berserah diri pada sesuatu yang ia anggap “mahakuasa” tatkala dirinya berada dalam titik ketiadakuasaannya.

Manusia butuh prinsip hidup. Ia adalah aturan, tuntunan, serta patokan bagi dirinya dalam menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Ia adalah aturan, tuntunan, serta patokan bagi dirinya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup serta naluri-nalurinya.

Dalam kisah di atas, mercusuar yang berada di atas batu karang adalah prinsip hidup. Ia tidak dapat berubah-ubah, dan tidak dapat diubah-ubah. Keberadaannya adalah tetap, sebagai patokan dalam menentukan pilihan: apakah kita akan membelokkan kapal kita, atau kalau tidak, pastinya kita akan menabraknya. Dan tidak mungkin kita menghancurkannya. Justru kita lah yang akan binasa bila tiada mengacuhkannya.

Dan sang kapten tidak lain adalah diri kita sendiri. Kita bebas menentukan mau ke mana kita mengarahkan kapal kita, yakni hidup kita sendiri. Apakah akan memilih untuk patuh terhadap prinsip hidup? Ataukah memilih untuk menabrakkan diri melanggarnya, yang secara pasti akan menghantarkan kita pada kebinasaan dan kehancuran?

Allah, sang Pencipta manusia, telah mengabarkan pada manusia melalui utusan-Nya, bahwasannya tugas manusia di dunia ini adalah untuk mengabdi hanya pada-Nya. Dan Islam, dengan syariahnya yang melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia, adalah solusi atas masalah-masalah yang dihadapi manusia dalam menjalani hidupnya.

Allah menghendaki manusia menjadikan penghambaan pada-Nya sebagai prinsip hidupnya. Dan itu adalah dengan ber-Islam, dengan taat pada aturan-aturan dan tuntunan-tuntunan Islam, yakni syariah Islam. Dan Islam is not only a religion; it’s a complete way of life.

Islam adalah sejatinya dan sebenar-benarnya prinsip hidup bagi manusia. Selanjutnya terserah kita, apakah memilih untuk taat pada aturan-aturannya, atau dengan sombong mencampakkan dan tiada mempedulikannya. Keduanya dengan konsekuensinya masing-masing.

Nah, lantas bagaimana sih tips agar kita bisa menentukan pilihan dengan tepat?

MELAKUKAN ANALISIS SWOT

Tips pertama yaitu melakukan analisis SWOT (strength, weaknesses, opportunities, threats), yaitu keunggulan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Jadi dalam setiap alternatif pilihan yang ada, paling mudah adalah dengan melakukan analisis SWOT pada masing-masing pilihan tersebut. Apa ya keunggulannya? Apa kelemahan dari pilihan ini? Apa peluang dan ancamannya? Kemudian dibuat list dari analisis SWOT tadi. Bandingkan, dan pilih yang terbaik.

BERDISKUSI DENGAN ORANG TUA / KERABAT

Tidak jarang dalam mengambil keputusan saya berdiskusi dengan orang tua, sahabat, dosen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan berdiskusi, kita menjadi tahu pandangan-pandangan orang lain terhadap alternatif pilihan yang ada. Tidak jarang seringkali lho nasihat atau petuah dari mereka justru ga kepikiran sama kita. Jadi, sebelum menentukan pilihan bisa berdiskusi terlebih dahulu Tapi tetap, pemegang keputusan untuk memilih adalah kita sendiri. Jadi, jangan mau disetir. Hehe..

MELAKUKAN SHALAT ISTIKHARAH

Kalau kita percaya bahwa manusia bisa memberikan masukan kepada kita terkait pilihan-pilihan hidup yang cukup berat, pasti Tuhan kita akan jauh lebih powerful dalam memberikan saran untuk memutuskan. Dalam keyakinan saya, salah satu caranya adalah dengan melakukan shalat istikharah. Lakukan minimal 3 kali shalat istikharah dalam 3 hari berturut-turut dan tulus dalam berdoa, insyaAllah akan terjawab. Saya pernah melakukannya saat bingung ingin memutuskan kuliah di UI dan ITB. Finally, saya kuliah di UI dan itu amat sangat menyenangkan. Sampai sekarang.

MEMBUAT KONTRAK DIRI

Baik, sekarang saatnya menentukan pilihan. Satu tips dari saya yang mungkin berguna adalah kita bisa memulai dengan membuat kontrak diri. Apa itu kontrak diri? Kita buat perjanjian dengan diri kita sendiri bahwa apapun pilihan yang kita pilih tidak akan pernah membuat kita menyesal di kemudian hari. Menyesal hanyalah akan mengurangi produktivitas hidup. Saya mendapat nasihat ini dari seorang kakak senior yang sekarang sudah sukses. “Hidup itu adalah pilihan, dan pastikan ketika kita sudah memilih tidak terucap satu kata menyesal pun dari mulut dan hati kita.”

KETIKA SUDAH MEMILIH, PERJUANGKAN SAMPAI SELESAI

Saya belajar banyak sewaktu kuliah di UI, terutama dari berbagai organisasi yang saya ikuti. Saya pernah satu kali ‘salah masuk’ ke sebuah organisasi yang sama sekali di luar bayangan saya dan tidak saya sukai cara kerjanya. Padahal, saya sudah memilih untuk bergabung di sana. Akhirnya kerja pun menjadi tidak optimal dan saya mengundurkan diri.

“Mengundurkan diri dari sebuah pilihan adalah sebuah contoh yang buruk.”

Hal ini saya dapatkan ketika bergaul dengan orang-orang dan pengusaha yang luar biasa, bahwa hidup mereka juga seringkali diliputi dengan pilihan yang berat, tetapi mereka memiliki prinsip, “apa yang sudah kita pilih, maka perjuangkanlah sampai selesai.”

Pilihan ada di tangan kita. Dan tiap-tiap diri akan mempertanggungjawabkannya masing-masing kelak

Rabu, 06 Maret 2013

Etika Bertetangga.


Islam adalah agama rahmat yang penuh kasih sayang. Dan hidup rukun dalam bertetangga adalah moral yang sangat ditekankan dalam Islam. Jika umat Islam memberikan perhatian dan menjalankan poin penting ini, niscaya akan tercipta kehidupan masyarakat yang tentram, aman dan nyaman.

Batasan Tetangga
Siapakah yang tergolong tetangga.? Apa batasannya.? Karena besarnya hak tetangga bagi seorang muslim dan adanya hukum-hukum yang terkait dengannya, para ulama pun membahas mengenai batasan tetangga. Para ulama khilaf dalam banyak pendapat mengenai hal ini. Sebagian mereka mengatakan tetangga adalah ‘orang-orang yang shalat subuh bersamamu’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah dari setiap sisi’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah disekitarmu, 10 rumah dari tiap sisi’ dan beberapa pendapat lainnya (lihat Fathul Baari, 10 / 367).

Namun pendapat-pendapat tersebut dibangun atas riwayat-riwayat yang lemah. Oleh karena itu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata: “Semua riwayat dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang berbicara mengenai batasan tetangga adalah lemah tidak ada yang shahih. Maka zhahirnya, pembatasan yang benar adalah sesuai ‘urf” (Silsilah Ahadits Dha’ifah, 1/446). Sebagaimana kaidah fiqhiyyah yang berbunyi al ‘urfu haddu maa lam yuhaddidu bihi asy syar’u (adat kebiasaan adalah pembatas bagi hal-hal yang tidak dibatasi oleh syariat). Sehingga, yang tergolong tetangga bagi kita adalah setiap orang yang menurut adat kebiasaan setempat dianggap sebagai tetangga kita.

Kedudukan Tetangga Bagi Seorang Muslim
Hak dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia. Sampai-sampai sikap terhadap tetangga dijadikan sebagai indikasi keimanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari 5589, Muslim 70).

Dari hadis di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa menghormati tetangga adalah bukti iman seorang muslim kepada Allah SWT. dan hari akhir. Melihat begitu pentingnya seorang Muslim untuk menghormati tetangganya, maka berikut ini ada beberapa adab yang bisa dipelajari dalam kehidupan bertetangga.
  • Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka. Rasulullah SAW. bersabda, sebagaimana didalam hadits Abu Hurairah ra : “….Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” . Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “Hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya.” (Muttafaq’alaih).
  • Pada saat membangun, hendaknya bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaannya.
  • Hendaknya Kita memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah. Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil dan hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.
  • Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah SAW.  telah bersabda: “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya.” (Muttafaq’alaih).
  • Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang makruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.
  • Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah SAW. bersabda kepada Abu Dzarr: “Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu.” (HR. Muslim).
  • Hendaknya kita turut bersuka cita dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita dalam duka mereka. Kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka jinak dan sayang kepada kita.
  • Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.
Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasulullah SAW. bersabda, “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah…. Disebutkan di antaranya : “Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya.” 

Bahkan besar dan pentingnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah ditekankan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhari 6014, Muslim 2625)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Bukan berarti dalam hadits ini Jibril mensyariatkan bagian harta waris untuk tetangga karena Jibril tidak memiliki hak dalam hal ini. Namun maknanya adalah beliau sampai mengira bahwa akan turun wahyu yang mensyariatkan tetangga mendapat bagian waris. Ini menunjukkan betapa ditekankannya wasiat Jibril tersebut kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/177)

Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga
Karena demikian penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim, Islam pun memerintahkan ummatnya untuk berbuat baik terhadap tetangga. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka sudah semestinya seseorang mempererat hubungannya terhadap tetangganya, dengan memberinya sebab-sebab hidayah, dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut dalam perkataan dan perbuatan serta tidak memberikan gangguan baik berupa perkataan dan perbuatan” (Tafsir As Sa’di, 1/177). Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ ، وَخَيْرُ الْـجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِـجَارِهِ
“Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103).

Maka jelas sekali bahwa berbuat baik terhadap tetangga adalah akhlak yang sangat mulia dan sangat ditekankan penerapannya, karena diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ancaman Atas Sikap Buruk Kepada Tetangga
Disamping anjuran, syariat Islam juga mengabakarkan kepada kita ancaman terhadap orang yang enggan dan lalai dalam berbuat baik terhadap tetangga. Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menafikan keimanan dari orang yang lisannya kerap menyakiti tetangga. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhari 6016, Muslim 46)

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: “Bawa’iq maksudnya culas, khianat, zhalim dan jahat. Barangsiapa yang tetangganya tidak aman dari sifat itu, maka ia bukanlah seorang mukmin. Jika itu juga dilakukan dalam perbuatan, maka lebih parah lagi. Hadits ini juga dalil larangan menjahati tetangga, baik dengan perkataan atau perbuatan. Dalam bentuk perkataan, yaitu tetangga mendengar hal-hal yang membuatnya terganggu dan resah”. Beliau juga berkata: ”Jadi, haram hukumnya mengganggu tetangga dengan segala bentuk gangguan. Jika seseorang melakukannya, maka ia bukan seorang mukmin, dalam artian ia tidak memiliki sifat sebagaimana sifat orang mukmin dalam masalah ini” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/178)

Bahkan mengganggu tetangga termasuk dosa besar karena pelakunya diancam dengan neraka. Ada seorang sahabat berkata:

يا رسول الله! إن فلانة تصلي الليل وتصوم النهار، وفي لسانها شيء تؤذي جيرانها. قال: لا خير فيها، هي في النار
“Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 7385, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad 88)

Sebagaimana Imam Adz Dzahabi memasukan poin ‘mengganggu tetangga’ dalam kitabnya Al Kaba’ir (dosa-dosa besar). Al Mula Ali Al Qari menjelaskan mengapa wanita tersebut dikatakan masuk neraka: “Disebabkan ia mengamalkan amalan sunnah yang boleh ditinggalkan, namun ia malah memberikan gangguan yang hukumnya haram dalam Islam” (Mirqatul Mafatih, 8/3126).

Bentuk-Bentuk Perbuatan Baik Kepada Tetangga
Semua bentuk akhlak yang baik adalah sikap yang selayaknya diberikan kepada tetangga kita. Diantaranya adalah bersedekah kepada tetangga jika memang membutuhkan. Bahkan anjuran bersedekah kepada tetangga ini sangat ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

لَيْسَ الْـمُؤْمِنُ الَّذيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ
“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 18108, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 149). Beliau juga bersabda:

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوْفٍ
“Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim 4766)
Dan juga segala bentuk akhlak yang baik lainnya, seperti memberi salam, menjenguknya ketika sakit, membantu kesulitannya, berkata lemah-lembut, bermuka cerah di depannya, menasehatinya dalam kebenaran, dan sebagainya.

Jika Bertetangga Dengan Non-Muslim
Dalam firman Allah Ta’ala pada surat An Nisa ayat 36 di atas, tentang anjuran berbuat baik pada tetangga, disebutkan dua jenis tetangga. Yaitu al jaar dzul qurbaa (tetangga dekat) dan al jaar al junub (tetangga jauh). Ibnu Katsir menjelaskan tafsir dua jenis tetangga ini: “Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al jaar dzul qurbaa adalah tetangga yang masih ada hubungan kekerabatan dan al jaar al junub adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan”. Beliau juga menjelaskan: “Dan Abu Ishaq meriwayatkan dari Nauf Al Bikali bahwa al jaar dzul qurbaa adalah muslim dan al jaar al junub adalah Yahudi dan Nasrani” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/298).

Anjuran berbuat baik kepada tetangga berlaku secara umum kepada setiap orang yang disebut tetangga, bagaimana pun keadaannya. Ketika menjelaskan hadits

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris”
Al ‘Aini menuturkan: “Kata al jaar (tetangga) di sini mencakup muslim, kafir, ahli ibadah, orang fasiq, orang jujur, orang jahat, orang pendatang, orang asli pribumi, orang yang memberi manfaaat, orang yang suka mengganggu, karib kerabat, ajnabi, baik yang dekat rumahnya atau agak jauh” (Umdatul Qaari, 22/108)

Demikianlah yang dilakukan para salafus shalih. Dikisahkan dari Abdullah bin ‘Amr Al Ash:

أَنَّهُ ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ، فَجَعَلَ يقول لغلامه: أهديت لجارنا اليهوي؟ أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجارحتى ظننت أنه سيورثه
“Beliau menyembelih seekor kambing. Beliau lalu berkata kepada seorang pemuda: ‘akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi’. Pemuda tadi berkata: ‘Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?’. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ‘Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris‘” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad 78/105, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad)

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Hak tetangga ialah, bila dia sakit, kamu kunjungi. Bila wafat, kamu mengantarkan jenazahnya. Bila dia membutuhkan uang, maka kamu pinjami. Dan bila mengalami kesukaran/kemiskinan, maka jangan dibeberkan, aib-aibnya kamu tutup-tutupi dan rahasiakan. Bila dia memperoleh kebaikan, maka kita turut bersuka cita dan mengucapkan selamat kepadanya. Dan bila menghadapi musibah, kamu datang untuk menyampaikan rasa duka. Jangan sengaja meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya, lalu menutup jalan udaranya (kelancaran angin baginya). Dan janganlah kamu mengganggunya dengan bau masakan, kecuali kamu menciduknya dan memberikan kepadanya.”

Inilah keadaan rumah Rasul, ketika beliau memasak maka tetangga yang mencium bau masakan tersebut ikut mendapat makanan. Namun, yang paling penting, kita melihat bahwa kebahagiaan kita itu bukan soal kita mendapat sesuatu atau tidak dari tetangga. Yang harus kita latih, kenikmatan bertetangga bukan mengharapkan sesuatu dari tetangga, tapi berupaya agar kita bisa berbuat yang terbaik untuk tetangga.

Kita akan tertekan ketika kita berharap banyak. Sebab, yang namanya rizki tidak selalu bermakna apa yang telah kita dapatkan, melainkan apa yang bisa kita lakukan. Jangan sampai gorden rumah kita copot gara-gara terlalu sering melihat tetangga. Makin sering nengokin tetangga, bisa jadi akan semakin menderita, sebab kedengkian kita kepada tetangga tidak akan mempengaruhi rizki tetangga, sebab yang membagikan rizki adalah Allah.

Sialnya jika kita dengki sama tetangga namun tetangga tambah nikmat. Tentu kita tambah menderita. Tetangga makin pulas, kita nggak bisa tidur. Mau keluar rumah susah, mau masuk juga susah. Bagaimana tidak, sosok tetangga yang kita dengkikan itu terus muncul di depan kita.

Maka di sini kita harus mampu mengemas kehidupan bertetangga menjadi ladang amal kita. Kalau kita punya tetangga kaya, sukses, jangan iri hati dan jangan suka mengintip. Apabila tetangga memperoleh kesuksesan atau keluasan rizki, belajarlah senang dengan kesuksesan orang. “Alhamdulillah, dia ternyata sekarang dititipi rizki. Mudah-mudahan barokah, mudah-mudahan bisa banyak manfaat.”

Kalau ada tetangga kita yang kekurangan, harus menjadi ladang amal bagi kita. Tidak termasuk orang yang beriman kalau kita kenyang dan pada saat yang sama tetangga kita lapar. Tidak akan miskin dengan menyantuni tetangga. Jika beras cukup, sisihkan sebagian untuk tetangga. Baju bekas anak-anak yang masih layak pakai, kalau belum sanggup memberikan baju bagus, berikan pada anak tetangga. Panci kita sudah agak penyok-penyok, berikan pada tetangga yang membutuhkan, kalau kita belum sanggup memberinya panci yang bagus. Tentu saja, jika mampu, berikanlah barang-barang yang berkualitas terbaik.

Di sinilah sebenarnya hasil ibadah kita akan terlihat, karena alat ukur ibadah kita bukan ketika sedang shalat saja, tapi bagaimana sesudahnya. Misalnya, shalat itu 5 x 10 menit atau 50 menit, dibulatkan menjadi sekitar 1 jam sehari, sedangkan 1 hari 24 jam. Bagaimana mungkin yang 1 jam baik, sedang yang 23 jam jelek semuanya?

Tidak akan rugi berbuat baik pada tetangga. Makin tetangga merasa nikmat dengan kita, dengan sendirinya mereka akan ikut membela kita. Sehebat apapun kita, tetap butuh tetangga. Misalnya, kita punya saudara dokter, tapi saat anak sakit yang duluan menolong pasti tetangga. Punya saudara anggota pemadam kebakaran, jika kompor di rumah meletus, yang lebih dulu membantu memadamkan pasti tetangga. Punya saudara jendral atau polisi, datang maling ke rumah, lantas kita teriak, yang duluan ngejar juga tetangga.

Maka kalau punya tetangga, terus perhatikan. Setiap kebahagiaannya, kita ikut bahagia. Anaknya lulus, alhamdulillah. Anaknya dapat kerjaan, alhamdulillah. Anak tetangga dapat jodoh, alhamdulillah. Insya Allah, kita akan bahagia terus. Hidup penuh kesyukuran kepada Allah Yang Maha Pemurah.

Makin tetangga sayang kepada kita, makin berbahagia hidup kita. Karena itu, bersilaturahmi dengan tetangga itu jangan cuma sisa waktu. Maksudnya, luangkan waktu, tenaga, fikiran untuk terus bersilaturahmi memperhatikan tetangga. Kalau mereka ingin maju, majulah bersama-sama. Karena, kalau kita maju sendirian dan tetangga tidak ikut maju, bisa jadi muncul kecemburuan sosial. Hal ini tentu akan merusak iklim pergaulan sosial di sekitarnya.

Jika kita jadi orang kaya namun tinggal di lingkungan perumahan sederhana, kemudian bikin rumah lima lantai sendiri tapi di sekelilingnya gubuk, tentu bisa menimbulkan sakit hati. Usahakan kalau kita punya rumah jangan sampai terlalu menyolok, membuat orang lain dengki. Seperti kata Rasul, jangan sampai menutupi cahaya, kecuali kalau mereka ridha. Kalau tidak, berikan kompensasi yang memadai. Pokoknya jangan berbuat yang membuat tetanga tidak suka kepada kita.

Pertanyaannya, bagaimana kalau tetangga kita yang kurang baik ahlaknya? Ini juga bisa jadi ladang amal. Kalau dalam satu RT ada tetangga yang ahlaknya kurang bagus, kita jangan meladeni dengan hal yang sama, sebab nanti di tempat itu jadi ada dua yang sama jeleknya: dia dan kita.

Tetangga yang kurang baik, yang kurang bijaksana, harus menjadi ladang amal bagi kita. Kita berkewajiban memberi contoh bagaimana sikap bertetangga yang baik. Sikap emosional, sikap membalas dendam, hanya akan membuat kehidupan bertetangga bagai api disiram bensin.

Bila kita sudah berusaha berbuat baik terhadap tetangga kita, namun ternyata tetangga kita berbuat sebaliknya, misalnya dia kurang mengetahui etika bertetangga, kita perlu pahami bahwa orang berbuat salah, berbuat jelek, belum tentu orang itu ingin berbuat zhalim. Ada orang berbuat salah karena dia merasa hal itu adalah benar menurut standar dia. Dia belum tahu, maka tugas kita adalah memberi tahu. Ada yang sudah tahu, tapi masih susah menghilangkan kesenangannya, maka kita bantu agar secara pelan tapi pasti dia bisa mengganti kesenangannya tanpa merugikan orang lain.

Sebagai pelajaran, hati-hati dalam berbuat. Jangan sampai tetangga merasa teraniaya. Yang paling penting adalah jangan hadapi tetangga dengan kebencian, karena kalau kita sudah benci kita akan cenderung menjatuhkan, menyakiti, membeberkan aib, dan semua ini tidak menjadi solusi.

Tetangga memang orang terdekat dengan kita. Menurut Imam Syafi’i, mereka adalah empat puluh rumah di samping kiri, kanan, depan, dan belakang. Mau tidak mau, setiap hari kita berjumpa dengan mereka. Baik hanya sekadar melempar senyum, lambaian tangan, salam, atau malah ngobrol di antara pagar rumah. Tetangga adalah orang terdekat dengan kita. Orang tua bilang, mereka adalah ‘andalan’ untuk segala suasana.

Rasanya, kita senantiasa harus melakukan instrospeksi terhadap diri pribadi. Apakah tetangga kita menyukai kehadiran kita atau jangan-jangan mereka malah terganggu dengan kehadiran kita. Maka sudah saatnya kita menebarkan salam, senyum, pada orang yang berada di sekitar tempat tinggal kita. Menjaga perasaan mereka, mengulurkan bantuan sekuat tenaga.
sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR Muslim).

Bertetangga adalah bagian kehidupan manusia yang hampir tidak bisa kita tolak. Manusia, bukan semata-mata personal-being (makhluk individu), tapi juga merupakan social-being (makhluk sosial). Seseorang tidak bisa hidup secara sendirian atau menyendiri. Mereka satu sama lain harus selalu bermitra dalam mencapai kebaikan bersama. Ini merupakan hukum sosial. Islam bahkan memerintahkan segenap manusia untuk senantiasa berjama’ah dan berlomba dalam berbuat kebaikan. Sebaliknya Islam melarang manusia bersekutu dalam melakukan dosa dan permusuhan.

Isyarat hidup berjama’ah dalam kebaikan dan harus senantiasa memeliharanya, misalnya termaktub dalam surat Al-Maidah ayat 2, yang artinya sebagai berikut;

“Bertolong-tolonganlah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.”

Dalam menumbuhkan dan mensosialisasikan budaya kebaikan dan taqwa itu, tetangga merupakan objek yang patut didahulukan (setelah anggota keluarga tentunya). Ini hirarki penyebaran kebaikan sebagaimana diarahkan Al Qur’an.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah barat dan timur itu suatu kebaikan. Akan tetapi sesungguhnya kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta.”.

Bahwa urutan kebaikan menurut ayat di atas adalah, setelah beriman (dalam pengertian menyeluruh), maka urutan berikutnya adalah membangun perilaku sosial yang sehat. Jadi Islam menginginkan budaya kesalehan itu tidak terbatas pada sekup personal (pribadi), tapi juga terciptanya kesalehan secara sosial. Maka, dalam konteks ini hidup rukun dan harmonis dengan tetangga menjadi sangat penting dan wajib.

Ya Allah Ya Rabb.. Jadikanlah Kami, warga yg baik n bermanfaat tuk tetangga Kami. Amin Ya Rabb