Kamis, 07 Maret 2013

Meminta Ma'af VS Mema'afkan.


Antara “Kumaafkan” dengan “Maafkan aku”

Mana yang utama antara “minta maaf“ dengan “memberi maaf“ ? Jawabannya tergantung kebutuhan…tapi bila ditilik dari sisi syariah “memberi maaf” lebih utama daripada “minta maaf”, mengapa?

Memang dalam kehidupan sehari-hari, ketika ada sebuah perselisihan, dianggap selesai bila ada salah satu yang berselisih mendahului untuk meminta maaf, dan akhirnya keluarlah pemberian maaf. Dan ada sebuah imej bahwa kalau belum minta maaf tidak dianggap “jantan” atau “gentle” (saya bingung, kalau yang minta maafnya wanita, apakah dikatakan ‘gentle” juga ya…?). Ya…ketika ada yang meminta maaf, ada sebuah pengakuan secara tidak langsung bahwa yang bersangkutan mengakui sebuah kesalahan terhadap orang lain yang kebetulan terkena sebuah kesalahan dari sang peminta maaf. Dan sebaliknya, yang memberi maaf, adalah orang yang dianggap diakui kebenarannya, dan yang terkena dampak sebuah kesalahan.

Ada sedikit anehdot…seorang yang terinjak kakinya di dalam kendaraan umum, lalu ia menyadari kakinya terinjak dan berkata kepada yang menginjak, “maaf Pak, kaki saya terinjak kaki Bapak” atau “maaf, kaki Bapak menginjak kaki saya” atau “maaf…”, sambil menarik kakinya yang terinjak. Yang terkena dampak sebuah kesalahan yang mana dan yang harus minta maaf siapa… . Atau cara sedikit kasar…”Hai…kaki saya jangan diinjak!” , langsung yang menginjak kaki “minta maaf”. Atau cerita lain, “maaf Pak, matikan api rokoknya…” atau “maaf…saya terganggu dengan asap rokok Bapak…”, dijamin dah si perokok akan mengekspresikan sebuah ketidak sukaan terhadap larangan tersebut, kalau tidak malah diusir untuk tidak dekat-dekat dengan si perokok dengan alasan sebuah kenikmatan dan “hak azazi”

Secara psikologi, psikologis orang yang minta maaf, biasanya minta maaf agar kesalahan orang lain yang dampaknya terkena dirinya tidak terulang atau tidak lama mengenai dirinya, alias memutus rantai kesengsaraan. Dan secara psikologis orang yang diminta kemaafannya, ada sedikit kesuperioran diri, minimal “merasa” benar. Kalaupun memang benar, ia tidak akan memulai dengan permohonan maafnya, kecuali didahului dengan permintaan maaf terhadap dirinya dan akhirnya…ia pun minta maaf. Muncullah “saling memaafkan” …kosong – kosong… .

Makna memberi maaf sebenarnya adalah seseorang mempunyai hak, tapi orang tersebut melepaskan haknya, yaitu tidak menuntut qishash atasnya tidak juga menuntut denda kepadanya, maka tidak salah jika memaafkan adalah sifat luhur yang dimiliki oleh seorang muslim yang benar bertakwa dan menerapkan petunjuk agamanya, banyak nash-nash yang menganjurkan manusia menghiasi dirinya dengan sifat pemaaf yang merupakan sikap ideal bagi umat Islam, nash-nash tersebut mengkategorikan si pemaaf sebagai orang baik dan beruntung karena mendapat ridhaNya

Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti dalam firman-Nya :"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran: 134)

Dengan memaafkan berarti kita telah mampu menahan rasa amarah, bahkan terbebas dari rasa dengki maupun iri hati, yang merupakan cerminan dari kebeningan hati dan jiwanya dan paling utama adalah mereka mendapat kecintaan dan keridhaan-Nya, dengan memaafkan pula berarti kita telah melepaskan beban yang ada pada diri serta menyerahkan sepenuhnya kepada kekuatan yang maha dahsyat dari Allah Azza wa Jalla

Tidak mudah memang jadi seorang yang memiliki sikap pemaaf, karena sikap pemaaf dan toleransi merupakan tingkatan yang sangat tinggi yang tidak bisa dicapai kecuali orang yang membuka hatinya untuk menerima petunjuk Islam serta menghiasi jiwanya dengan akhlak Islam, mereka itulah yang selalu memohon ampunan, pahala dan kemuliaan dari Allah Azza wa Jalla.

Sungguh indah cara yang digunakan Al Qur’an dalam mengapresiasi dan mengangkat jiwa kemanusiaan ketingkat yang tinggi, Al Quran menetapkan bahwa orang-orang yang didzalimi boleh membela diri dan membalas dengan balasan atas kejahatan serupa, tetapi Al Quran tidak membiarkan kebencian dan balas dendam menguasai jiwa manusia tetapi sikap kelembutanlah lebih diutamakan, yang akan membawa pada sikap memaafkan dan toleransi, Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:

“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS. Asy-Syuura: 39-43)

Kejahatan apabila disikapi ataupun dibalas dengan kejahatan akan menyulut api permusuhan serta kedengkian yang akan bermuara pada dendam kesumat dan kebencian yang mendalam tetapi sebaliknya jika kejahatan dibalas dengan kebaikan berarti telah mampu memadamkan kobaran api permusuhan, kebencian dan rasa dengki, serta merubah sikap permusuhan menjadi persahabatan dan persaudaraan yang dipenuhi dengan senyum keceriaan, merubah rasa emosi menjadi kesabaran dan cinta kasih, itulah akhlak seorang mukmin sejati dalam masyarakat muslim selalu menahan amarah, mengendalikan emosi, memberikan maaf serta bersikap toleran antar sesama

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushshilat: 34)

"Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’raf: 199)

Akhlak seperti ini adalah ciri-ciri akhlak Rabbani yang mencakup secara keseluruhan dimana kejahatan bukan dibalas dengan kejahatan melainkan dibalas dengan akhlak karimah berupa pemaafan dan kebaikan

Sifat pemaaf Rasulullah telah mengakar kuat didalam diri beliau yang mulia. Ada sebuah cerita ketika seorang wanita yahudi menghadiahkan daging kambing beracun kepada Rasulullah, kemudian beliau makan sedikit yang diikuti oleh sebagian sahabat, kemudan Rasulullah berkata pada para sahabat  
“Hentikanlah, jangan makan daging ini beracun” kata Rasulullah kepada para Sahabat, selanjutnya wanita yahudi tersebut dibawa kehadapan Rasulullah.
“apa yang menyebabkan kamu berbuat seperti ini?” Tanya Rasulullah  
“Aku ingin tahu, jika engkau seorang Nabi, kami akan tenang dari gangguanmu.” Jawab wanita Yahudi itu.
“bukankah kita harus membunuhnya?” Seru para sahabat
“Tidak!”, jawab Rasulullah, maka wanita tersebut dibebaskan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  telah menanamkan kedalam diri kaum muslim sifat pemaaf dan toleran, meskipun diperlakukan jahat dan didzalimi, itulah sikap utama yang dimiliki Rasulullah, terbukti cara tersebut menjadi media yang ampuh dalam berdakwah, Rasulullah mengetahui bahwa orang-orang akan lebih bisa menerima dakwahnya dengan kelembutan dan toleransi bukan dengan cara kekerasan, kekasaran dan intimidasi.

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT”. Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, sebab itu mustahil kecuali Rasulullah SAW yang ma’shum (senantiasa dalam bimbingan Allah SWT). Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.

Sebagai penutup saya ingin sampaikan bahwa Allah Azza wa Jalla Maha Pengampun dan Maha Pemaaf, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim pada kita, semoga kita tetap rendah hati menyadari bahwa manusia tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan maka sikap saling memaafkan adalah sikap yang luhur yang dianjurkan di Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment Using Facebook