Kamis, 07 Maret 2013

Meminta Ma'af

Artikel ini, sebenarnya masih berkaitan dengan artikel sebelumnya (Marah dan Cara Mengendalikannya)Tak ada satu orangpun yang sempurna di dunia ini, semua pasti mempunyai kesalahan dan pernah berbuat kesalahan dengan seseorang. Dan yang paling penting adalah bagaimana menyadari kesalahan, meminta maaf dan tak mengunlanginya lagi. Banyak cara dilakukan dilakukan untuk mendapatkan maaf dari orang yang telah anda sakiti. Dan tips dan trick pada kesempatan kali ini Ayah_Alif akan mencoba menyajikan "Meminta Ma'af".  Dan hal ini bisa dikaitkan membantu anda dalam menjalankan tips kesehatan karena pada sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa meminta maaf dengan cara yang tulus dapat membantu Anda mengurangi stres dan mengurangi rasa bersalah.


Salah satu sisi negatif kehidupan modern adalah munculnya masyarakat yang egois. Hampir semua orang disibukkan oleh urusannya sendiri, dan tak peduli dengan urusan orang lain. Bila ada urusan pribadinya yang terganggu sedikit saja, muncul alasan untuk marah, membalas, atau mendendam.

Padahal, dengan cara seperti itu, ia malah akan menanggung dua beban sekaligus. Pertama, beban atas gangguan orang lain. Kedua, beban marah yang tersimpan di dalam dadanya.

Islam mengajarkan kepada kita untuk membebaskan diri dari segala bentuk beban yang tidak perlu. Kita harus memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan hawa nafsu yang merusak dan membebani. Kita buang beban itu dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memaafkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,” Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (Al-A’raf [7]: 199)

Meski Dizalimi

Seperti diriwayatkan oleh Ath-Thabari, ketika ayat di atas diturunkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) meminta penjelasan kepada Jibril tentang maksud dan kandungannya.

Jibril kemudian menjawab, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan agar engkau memaafkan, sekalipun kepada orang yang menganiayamu (agar engkau) memberi kepada orang yang menahan pemberiannya, dan (agar engkau) menyambung silaturahim, meskipun kepada orang yang sengaja memutuskannya.”

Dalam kisah yang diriwayatkan Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah memuji seorang bernama Abu Dhamdham di depan para Sahabat. “Apakah kalian mampu berbuat seperti yang dilakukan Abu Dhamdham?” kata Rasulullah SAW. Para Sahabat kemudian bertanya, “Apakah yang dilakukan Abu Dhamdham wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang ketika bangun pagi selalu mengucapkan doa, ‘Ya Allah, saya berikan jiwa dan nama baik saya. Jangan dicela orang yang mencela saya dan janganlah dizalimi orang yang menzalimi saya , serta jangan dipukul orang yang memukul saya,’.”

Alangkah mulianya ajaran Islam ini bila diterapkan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. Selain mulia, memaafkan juga bisa mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, keengganan untuk memaafkan hanya akan melahirkan kesengsaraan, karena membiarkan diri disakiti terus-menerus oleh diri kita sendiri.
Untuk itu, maafkanlah orang yang meminta maaf. Maafkan juga orang yang mengajukan pengakuan atas kesalahannya, dan terimalah permintaan maafnya tanpa banyak pertimbangan. Bahkan carikan alasan agar kita bias memaafkannya.

Sebelum Diminta

Al-Qur`an secara spesifik pernah menegur Abu BakarAsh- Shiddiq karena ia telah bersumpah akan memutuskan hubungan kekerabatan dan menghentikan bantuan keuangan yang biasa diberikannya kepada sepupunya, Misthah bin Utsatsah.

Peristiwa ini bukan tanpa alasan. Misthah telah melukai hati Abu Bakar karena ikut serta menyebarluaskan berita bohong (haditsul ifki) tentang ‘Aisyah, putri kesayangannya.

Dalam berita palsu itu disebutkan bahwa ‘Aisyah telah berbuat serong dengan lelaki lain. Siapa yang hatinya tidak marah jika putrinya difitnah seperti itu?

Akan tetapi Allah Ta’ala justru menurunkan ayat secara khusus ditujukan kepada Abu Bakar. Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana disebutkan dalam akhir Surat An-Nuur [24] ayat 22, “… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”

Setelah ayat itu disampaikan oleh Rasulullah SAW, secara spontan Abu Bakar menjawab pertanyaan Allah Ta’ala dengan berdoa, “Ya Allah, aku lebih suka agar Engkau mengampuniku, dan aku sudah memafkannya.”
Abu Bakar memberi maaf kepada sepupunya yang menyebarkan fitnah keji itu sebelum Misthah datang meminta maaf. Baginya, ampunan Allah Ta’ala jauh lebih penting dari pada sekadar permintaan maaf orang lain.
Ia tidak menunggu sepupunya merengek-rengek atau menunduk-nunduk meminta maaf. Meminta maaf atau tidak, ia telah memaafkannya.

Pangkal Pengampunan

Bagi orang yang bertakwa, ampunan Allah Ta’ala berada di atas segala-galanya. Karena itu kita hendaklah meminta ampunan-Nya siang dan malam. Beristighfar dan bertaubatlah kepada-Nya. Salah satu cara mudah meraih ampunan Allah Ta’ala adalah dengan memberi maaf kepada orang lain. Rasulullah SAW, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, berkata, “Barangsiapa memaafkan kesalahan seorang Muslim, maka Allah akan memaafkan kesalahannya.”

Sepanjang bukan menyangkut masalah hudud (hukuman yang diatur oleh Allah Ta’ala), seberapa pun besarnya kesalahan orang lain, kita harus bisa terbuka untuk memaafkannya. Ada dua cara yang efektif untuk memaafkan kesalahan orang lain. Pertama, kita menyadari bahwa manusia itu tempatya salah dan lupa. Kita sendiri sebagai pribadi, juga sering berbuat salah, baik kepada Allah Ta’ala maupun kepada sesama manusia.

Jika kita ingin dimaafkan orang lain, tentu orang lain yang berbuat salah kepada kita juga ingin dimaafkan oleh kita. Jika ada orang yang tidak meminta maaf atas kesalahannya, tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan. Dalam hal ini kita harus berhusnuzhan (baik sangka) kepadanya bahwa dia tidak memahami kesalahannya, atau karena ilmunya yang terbatas, atau mungkin saja persepsinya yang berbeda.

Cara kedua, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala itu Maha Pemaaf dan menyukai orang yang meminta maaf. Jika Allah Ta’ala mudah memberi maaf, mengapa kita pelit memaafkan orang lain?

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada yang lebih suka memaafkan selain Allah. Oleh karena itu, Dia mengutus para Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.” (Riwayat Bukhari).

Begitu besarnya pengampunan Allah Ta’ala sehingga Dia memaafkan orang yang meminta ampunan maupun yang tidak minta ampun. Dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhari disebutkan bahwa ada seorang laki-laki di masa lalu yang memerintahkan anak-anaknya untuk membakar jasadnya jika ia telah mati, lalu menaburkan abunya di hembusan angin. Tujuannya tak lain agar Allah Ta’ala kelak, menurut anggapannya, tidak dapat mengumpulkan kembali abu tersebut dan tidak dapat menyiksanya.

Lalu Allah Ta’ala mengumpulkan abunya, dan menghidupkannya kembali, dan kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ia menjawab, “Karena aku takut kepada-Mu, wahai Tuhanku.” Allah Ta’ala kemudian mengampuninya.

Para Ulama mengomentari Hadits di atas bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa seseorang karena ketidaktahuannya dalam masalah aqidah. Lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita tidak ingin memaafkan kesalahan saudara kita hanya karena ketidaktahuannya atas masalah yang lebih sepele dibanding kejadian di atas?

Al-Qur`an bahkan menyebut dengan tiga tindakan berkaitan dengan pemaafan dalam keluarga, yaitu ta’fu (memaafkan), tasfahu (tidak mengeluarkan kata-kata yang identik dengan mencela), dan taghfiru (memohonkan ampunan kepada Allah Ta’ala untuk mereka). Sesungguhnya ada seribu satu alasan untuk memaafkan, sebagaimana ada seribu satu alasan untuk tidak memaafkan. Hanya saja, sebagai orang yang telah digembleng oleh Ramadhan, kita tentu lebih memilih untuk memaafkan.

Sebab, itulah ciri-ciri orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Ali Imran [3] ayat 133-134 bahwa, “ … (orang yang bertakwa) yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang- orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. “
Alangkah angkuhnya kita jika tidak mau memaafkan saudara kita. Padahal, dengan memaafkan, berarti kita menyenangkan hati orang lain, memusnahkan benih kejahatan, menghilangkan kedengkian, dan membantu orang lain untuk bertobat.


Tidak peduli betapa mengagumkan Anda, kadang-kadang Anda akan melakukan sesuatu yang salah, dan orang-orang akan marah kepada anda. Saat itulah Anda perlu melakukan hal kecil yang disebut 'meminta maaf'. Justru ketika Anda mengakui bahwa Anda melakukan kesalahan dan kemudian minta maaf untuk itu. Tapi kadang-kadang hanya dengan mengatakan kata 'maaf' tidak cukup. Namun anda harus benar-benar perlu kesungguhan dari dalam hati. Jika Anda sudah benar-benar kacau, dan mengakui bahwa mengatasi masalah itu bisa jadi sulit. Dalam posting sebelumnya kenzoo hadirkan Tips dan Trick Meminta Maaf Pada Pacar, maka kali ini lebih bersifat umum dan inilah  Cara Meminta Maaf Yang Sempurna, tidak peduli apa yang telah Anda lakukan:
  • Bertanggung Jawab. Ketahuilah bahwa jika seseorang marah dengan Anda, kemungkinan untuk alasan yang baik, anda sebaiknya meluangkan waktu untuk merenungkan apa yang mungkin telah anda lakukan mungkin sudah mengganggu mereka. Jika Anda tidak melakukan sesuatu yang salah, maka jangan meminta maaf. Tapi, jika Anda memiliki kesalahan tersebut maka, lanjutkan ke langkah dua.
  • Segera Meminta Maaf. Jika Anda telah melakukan sesuatu yang tidak pantas, jangan mencoba untuk membenarkan posisi Anda dalam pikiran Anda. Biarkan orang lain cepat mengetahui bahwa Anda tidak bermaksud mengecewakan mereka. Idealnya, melakukan hal ini face-to-face yang paling kuat atau melalui telepon jika mereka tinggal jauh. Hindari melakukannya dalam email atau melalui Facebook dan juga SMS. Pembicaraan langsung sangatlah penting karena dengan begitu mereka akan mengetahui tentang bagaimana rasa penyesalan anda yang bisa dilihat dari raut wajah dan suara. Anda bisa memberikan Kata Ajaib Untuk Membuka Pintu Hati jika mereka adalah orang-orang yang anda cintai.
  • Sadar Akan Kemarahannya. Perjelaslah bahwa anda sangat menyesali perbuatan anda dan mengakui kurangnya kesadaran anda yang telah menyakiti mereka. Anda perlu untuk menjelaskan sendiri, hanya melakukannya dan menunjukkan bahwa Anda tidak bermaksud mengecewakan mereka. Jangan mencoba untuk membawa perasaan agar dikasihani, membuat diri Anda merasa lebih baik atau merubah rencana anda untuk meminta maaf. ini merupakan salah satu Cara Meminta Maaf Yang Sempurna dengan tidak melipatkan orang lain atau pihak ketiga. Jadilah diri anda sendiri bukan dari orang lain.
  • Minta pengampunan. Ketika Anda meminta pengampunan, biarkan mereka tahu bahwa Anda tidak akan melakukannya lagi dan sangat menyesali perbuatan dan sikap yang telah anda lakukan. Jika mereka menerima permintaan maaf Anda, segera ucapkan terimakasih dan tetap melanjutkan hubungan baik anda, bukan mengahirinya, Namun, anda juga harus menerima jika mereka menginginkan semuanya berakhir. Ini adalah resiko hukumandari kesalahan yang telah anda lakukan.
  • Memaafkan diri sendiri. Jika mereka tidak menerima permintaan maaf Anda, maka tidak ada lagi yang dapat Anda lakukan. Apakah mereka melakukan atau tidak menerima permintaan maaf Anda, Anda harus membiarkannya pergi. Rasa bersalah ini hanya akan merugikan Anda secara internal, sehingga memaafkan diri sendiri adalah pilihan yang bijak dan tentunya anda bisa belajar dari pengalaman tersebut utnuk bersikap lebih baik kemudian harinya.
Kita pernah "DILUKAI"
dan mungkin pernah "MELUKAI"
tapi karena itu kita BELAJAR
tentang bagaimana cara menghargai, menerima, berkorban dan memperhatikan.

Kita pernah "DIBOHONGI"
dan mungkin pernah "MEMBOHONGI",
tapi dari itu kita belajar tentang KEJUJURAN.

Andaikan kita tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup ini, mungkin kita tidak pernah belajar arti diri MEMINTA MAAF dan MEMBERI MAAF.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan
terulang kembali. Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan,..
yaitu BELAJAR dari masa lalu untuk hari ESOK yang lebih baik.

Hidup adalah proses,
Hidup adalah belajar.
Tanpa ada batas umur,
Tanpa ada kata tua

JATUH, berdiri lagi
KALAH, mencoba lagi
GAGAL, bangkit lagi,
Sampai Allah SWT memanggil:
"Waktunya PULANG"

Nah, agar anda tidak merasa terbebani apakah yang akan anda lakukan bisa membuat orang lain marah, tersinggung atau sakit hati, cobalah untuk bercermin dari apa yang akan anda lakukan. Anda bisa berasumsi bagaimana jika oranglain bersikap dan melakukan suatu tindakan dari apa yang akan anda lakukan terhadap diri anda. Dengan begitu, anda akan mengetahui, apakah tindakan anda menyakiti orang lain atau tidak. Namun ini tidak bisa dijadikan pedoman karena setiap orang mempunyai sikap dan perasaan yang berbeda dengan anda. Setidaknya ini langkah mudah dalam anda melangkah ketahap berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment Using Facebook