Sabtu, 12 Januari 2013

Adat Pernikahan di Indonesia #3 (Betawi)

Kemeriahan Gaya Betawi

Masyarakat Betawi memiliki sejarah panjang sebagaimana terbentuknya kota Jakarta sebagai tempat domisili asalnya. Sebagai sebuah kota dagang yang ramai, Sunda Kelapa (nama Jakarta tempo dulu) disinggahi oleh berbagai suku bangsa. Penggalan budaya Arab, India, Cina, Sunda, Jawa, Eropa, dan Melayu seakan berbaur menjadi bagian dari karakteristik kebudayaan Betawi masa kini. Tradisi budaya Betawi laksana campursari dari beragam budaya dan elemen etnik masa silam yang secara utuh menjadi budaya Betawi kini. Kemeriahan budaya Betawi juga terwakili melalui tata cara pernikahan Betawi.



Pada tata cara pernikahan Betawi, ada banyak serangkaian prosesi. Berikut kami paparkan rangkaian upacara pernikahan gaya Betawi yang masih dilakoni oleh sebagian besar masyarakat Betawi.

NGEDELENGIN

Didahului masa perkenalan melalui mak comblang yang disebut Ngedelengin. Ngedelengin bisa dilakukan beberapa kali dan dalam jangka waktu bervariasi mulai dari satu atau dua bulan sampai satu tahun. Hal ini sedikit banyak tergantung pada kesigapan si gadis menghadapi jenjang pernikahan. Namun seiring dengan kemajuan jaman, fungsi mak comblang dan proses ngedelengin sudah jarang diperlukan. Pasalnya, si pria sudah bisa menemukan tambatan hati sendiri, sekaligus memiliki kesanggupan untuk menentukan pilihannya untuk menuju mahligai perkawinan.


NGELAMAR

Ngelamar merupakan pernyataan resmi dari pihak keluarga laki-laki untuk menikahkan putranya kepada pihak calon mempelai perempuan. Ngelamar dilakukan oleh beberapa orang utusan yang disertai dengan membawa sejumlah barang bawaan wajib seperti uang sembah lamaran, baju atau bahan pakaian wanita, serta beberapa perlengkapan melamar lainnya. Setelah Ngelamar selesai, acara yang sangat menentukan pun dilanjutkan yakni membicarakan masalah mas kawin, uang belanja, plangkah (kalau calon mendahului kakaknya), dan kekudang (makanan kesukaan calon mempelai wanita). Apabila bawa tande putus telah disepakati, maka dilanjutkan dengan pembicaraan yang lebih rinci perihal apa dan berapa banyak tande putus serta segala hal yang berkaitan dengan acara pernikahan.


BAWA TANDE PUTUS
Acara ini hampir mirip dengan acara pertunangan. Tande putus bisa berupa apa saja, namun orang Betawi biasanya memberikan tande putus berupa cincin belah rotan, uang pesalin sekadarnya, serta aneka rupa kue. Tande putus ini sendiri artinya si gadis atau calon none mantu telah terikat dan tidak dapat lagi diganggu oleh pihak lain. Begitu pula dengan calon tuan mantu atau si pemuda. Setelah tande putus diserahkan, maka berlanjut dengan menentukan tanggal dan hari pernikahan.

PIARE CALON NONE PENGANTEN
Setelah pembicaraan persiapan pernikahan selesai, kemudian calon pengantin wanita akan dipiare (dipelihara) oleh tukang piare. Tujuannya yaitu untuk mengontrol kegiatan, kesehatan dan memelihara kecantikan calon none mantu menghadapi pernikahan. Selain perawatan fisik, juga dilengkapi program diet dengan pantangan makanan tertentu untuk menjaga berat tubuh ideal calon mempelai wanita.


SIRAMAN, DITANGAS, NGERIK DAN MALEM PACAR

Acara siraman atau memandikan calon mempelai wanita diadakan sehari sebelum akad nikah dan biasanya diawali dengan pengajian. Setelah acara siraman, calon mempelai wanita menjalani upacara tangas (semacam mandi uap). Perawatan dimaksudkan untuk menghaluskan dan mengharumkan kulit tubuh sekaligus mengurangi keringat pada saat hari pernikahan. Berikutnya adalah prosesi ngerik atau mencukur bulu kalong dan membuatkan centung pada rambut di kedua sisi pipi di depan telinga. Kemudian dilanjutkan dengan malem pacar, malam dimana mempelai wanita memerahkan kuku kaki dan tangannya dengan pacar.



AKAD NIKAH
Puncak adat Betawi adalah Akad nikah. Meriah dan penuh warna-warni, demikian gambaran dari tradisi pernikahan adat Betawi menjelang akad nikah. Diiringi suara petasan, rombongan keluarga mempelai pria berjalan memasuki depan rumah kediaman mempelai wanita sambil diiringi oleh ondel-ondel, tanjidor serta marawis (rombongan pemain rebana yang menyanyikan lagu berbahasa Arab). Bahkan dahulu, rombongan calon mempelai pria berjalan sambil menuntun kambing.


BUKA PALANG PINTU

Sesampainya di depan rumah terlebih dulu diadakan prosesi buka palang pintu, berupa berbalas pantun dan adu silat antara wakil dari keluarga pria dan wakil dari keluarga wanita. Prosesi tersebut dimaksudkan sebagai ujian bagi mempelai pria sebelum diterima sebagai calon suami yang akan menjadi pelindung bagi mempelai wanita sang pujaan hati. Uniknya, dalam setiap petarungan silat, jago dari pihak mempelai wanita pasti dikalahkan oleh jagoan mempelai pria.


DI PUADE
Selain itu ada pula prosesi di puade. Setelah kedua mempelai duduk di puade (pelaminan), tukang rias membuka roban tipis yang menutupi kepala mempelai wanita. Selanjutnya mempelai pria memberikan sirih dare kepada mempelai wanita sebagai lambang cinta kasih. Biasanya di dalam sirih diselipkan uang sebagai uang sembe (seserahan).

KULINER
Warna-warni dalam prosesi pernikahan gaya Betawi turut hadir dalam makanan antaran yang diberikan calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita. Yang paling populer saat ini adalah roti buaya.  Roti buaya merupakan lambang kesetiaan karena hewan tersebut dikenal sebagai binatang yang setia dan hanya kawin sekali seumur hidup. Karena itu, dengan adanya roti buaya, diharapkan kedua mempelai bisa hidup langgeng selamanya, tanpa perlu perceraian dan menikah lagi dengan orang lain. Sebuah prinsip pernikahan yang tertinggi dan tidak bisa tergantikan oleh apapun. Aslinya, roti buaya tidak ada isinya. Namun sekarang ini banyak pembuat roti buaya yang memasukan coklat, keju, sosis atau daging ke dalam roti agar lebih nikmat saat disantap. Baca juga artikel mengenai "Kuliner Khas Betawi" DISINI.


Selain roti, adapula pisang raja yang jumlahnya dua sisir. Pisang raja menjadi pilihan utama mengingat pisang tersebut adalah pisang terbaik di antara pisang-pisang lainnya karena lebih kuat dan dapat bertahan dalam beberapa alias tidak cepat busuk. Saat akan dijadikan antaran ketika lamaran, ujung pisang raja dibungkus dan dibuatkan topi menggunakan kertas warna kuning atau merah atau warna emas dan metalik.

Yang tak boleh ketinggalan adalah sirop (umumnya berwarna merah berjumlah tiga botol). Sirop yang rasanya manis ini menjadi lambang akan terbentuknya hubungan antar keluarga yang harmonis dan rukun. Penggunaan sirop sebagai salah satu antaran lamara ini juga disebabkan adanya kebiasaan orang Betawi memakan roti ditaburi atau ditutul  dengan sirop. Sirop dimasukan dalam bongsang diikat rapi dan diberi hiasan dengan kertas krep warna-warni.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comment Using Facebook