Kamis, 28 Maret 2013

Manusia Punya Rencana, (kenapa) Tuhan Yang Menentukan.?


“Sesuatu yang menurutmu baik untukmu, belum tentu baik menurut Allah untukmu. Dan sesuatu yang menurutmu buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Allah bagimu”. Seindah-indahnya rencana yang dibuat oleh manusia jika Tuhan tak berkehendak, maka rencana itu hanya akan menjadi bingkai dalam mimpi besar kehidupn yang tak sampai. Rencana yang dibuat berawal dari mimpi indah yang aka mengantarkan seseorang seperti apa yang dia mau. Rencana itu sangat matang bila saja tidak ada hambatan dalam pelaksanaannya. Namun setiap perjalan pasti ada hambatannya. Hambatan tersebut telah dicari solusinya ketika rencana tersebut dibuat.

Bagi seorang manusia, keberhasilan adalah suatu kondisi yang selalu ingin dicapai. Tidak ada satupun manusia yang ingin terpuruk dalam kegagalan terus-menerus. Bagi mereka yang mau dan mampu untuk meraihnya, keberhasilan itu akan dapat diraih atas izin Allah SWT.

Seorang mahasiswa pasti mengharapkan sebuah prestasi akademik yang baik. Seorang pengusaha pasti selalu mengharapkan mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Seorang pilot pasti mengharapkan agar dapat take off dan landing dengan selamat. Seorang penulis buku pasti mengharapkan agar bukunya dapat diminati oleh banyak orang. Begitupun dengan kita, kita pasti mengharapkan keberhasilan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.

Sebuah keberhasilan merupakan hasil dari suatu usaha yang kita lakukan. Orang yang meraih keberhasilan dalam suatu aktivitas akan disebut sebagai orang yang hebat karena telah berhasil meraih apa yang ia inginkan, sebaliknya, orang yang gagal meraih keberhasilan itu, maka ia akan dikatakan sebagai orang yang gagal. Hal inilah yang terbentuk dalam pola pikir sebagian orang.

Manusia punya keinginan bagaimana dia akan hidup di masa depan, tapi Tuhan pun memiliki keinginan yang mutlak kepada setiap hamba-hambanya yang beriman untuk mejadi kekasih-Nya. Besarnya cobaan dan godaan yang datang menentukan seseorang tersebut layak atau tidak untuk menjadi kekasih-Nya. Bagaimana bisa seseorang yang belum mendapat cobaan dari-Nya sudah menjadi kekasih-Nya? Bukankah untuk mencapai puncak gunung harus mendaki dan melewati beberapa rintangan dulu, dan itu pasti sangat lelah.


Milikilah rencana kedua sebelum berakhirnya rencana pertama agar ada jalan alternative untuk mencapai suatu tujuan. Segala sesuatu yang akan kita jalani sudah terencana dengan baik, serta dengan mengantisipasi segala kemungkinan hambatan yang ada, namun bagaimana jika hambatan terebut diluar dari kendali kita.


Satu hal yang perlu kita ingat, tidak selamanya kegagalan itu menandakan ketidakmampuan kita untuk mencapai suatu tujuan. Sebab kegagalan itu adalah proses atau sebuah jalan panjang menuju titik kejayaan. Kita mungkin sering mendengar kata-kata mutiara Kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Ternyata hal ini memang terbukti. Seorang Thomas Alfa Edisson mengalami ratusan kegagalan sebelum akhirnya mampu menemukan lampu. Seorang Bill Gates harus rela dikeluarkan dari kampusnya sebelum akhirnya ia membangun kerajaan IT dunia, Microsoft.

Pada hakikatnya, manusia pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya, hanya saja mereka yang mampu bangkit dari kegagalan itu, itulah keberhasilan yang sesungguhnya. Islam mengajarkan ummatnya bagaimana meraih sebuah keberhasilan dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Perlu kita pahami bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini merupakan kuasa dari Allah semata. Artinya, segala sesuatu yang ada di jagat raya ini adalah milik Dia yang menciptakan, yaitu Allah SWT. Sebagai seorang pemilik, Allah berhak berbuat apa saja terhadap ciptaanNya.

Keberhasilan hanya dapat diraih melalui dua cara, yaitu ikhtiar dan tawakkal. Segala upaya dan kerja keras kita dalam mewujudkan tujuan dan mimpi yang ingin kita raih merupakan ikhtiar. Namun bagaimanapun juga, manusia tetap saja seorang makhluk yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Untuk itulah, selain melakukan ikhtiar, kita harus tawakkal kepada Allah dengan memperbanyak ibadah dan do’a agar setiap ikhtiar yang kita lakukan mendapat berkah dan dimudahkan oleh Allah. 

Banyak orang yang telah bekerja keras siang dan malam, bahkan sampai menghabiskan sebagian besar waktu, tenaga, bahkan hartanya hanya untuk meraih impiannya, pada akhirnya harus mengalami kegagalan yang pahit. Inilah akibatnya jika kita melupakan Allah dalam setiap ikhtiar/ usaha kita. Kita terkadang merasa pede dengan kemampuan kita sendiri, bahkan sampai menganggap bahwa keberhasilan yang selama ini diraih adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dia lupa bahwa yang memberikan segala kenikmatan itu adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kaya.

Ikhtiar dan tawakkal hanyalah sebuah washilah (sarana) kita untuk mencapai tujuan kita. Segala sesuatunya hanya berhak ditentukan oleh Allah saja. Artinya, tujuan atau mimpi yang ingin kita capai belum tentu akan kita raih, sekalipun telah melakukan ikhtiar dan tawakkal yang banyak. Kenapa demikian? Apakah Allah murka pada kita?

Ternyata Allah sangat sayang kepada kita. Allah itu Maha Mengetahui segalanya. Termasuk segala sesuatu yang kita butuhkan, Allah lebih tahu daripada kita sendiri. Karena, segala sesuatu yang kita inginkan, segala sesuatu yang menurut kita baik, ternyata belum tentu baik menurut Allah. Misalnya, si Fulan ingin hidup kaya dan tentram. Dia setiap hari berikhtiar dan bertawakkal agar Allah memberikannya kekayaan kepadanya. Namun pada akhirnya dia tetap saja hidup miskin. Bukan berarti Allah murka kepadanya, lantas tidak memberikan kekayaan pada si Fulan. Tapi Allah tahu, jika ia menjadi orang kaya yang bergelimangan harta, dia akan menjadi kufur dan jauh dari Allah. Oleh karena itulah, Allah tidak mengubah nasibnya agar ia lebih dekat lagi kepada Allah.

Ketika semua telah selesai matang dibuat dan tinggal dilaksanakan sebuah musibah tak di undang pun datang. Seperti runtuhnya rel kereta yang berada di atas sungai, sehingga tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh dan akhirnya berhenti di tempat. Menunggu dengan waktu yang lama sampai selesai diperbaiki sangat menjenuhkan dan membuat putus asa.

Ketika seseorang berada dalam situasi terpojok dan tak ada jalan lagi, dia hanya bisa terdiam dan termenung mengenai kejadian yang telah menimpanya. Bagai petir yang menyambar sebatang pohon sehingga tumbang jatuh ketanah dalam sekejap mata. Tak ada sesuatu yang dapat menghalanginya, sehingga tepat pada sasarannya. Adakalanya dalam situasi seperti ini seseorang akan berpikir kebelakang dahulu dan mengingat beberapa kejadian sebelumnya. Kemudian dia akan berpikir jauh ke depan untuk merancang suatu perubahan yang akn mengantarkannya ke dalam jalan dan tujuannya kembali.

Disinilah teguran Tuhan kepada seseorang terhadap rencana yang dibuat dan sedang dijalankan. Teguran itu mengandung makna untuk mengingatkan seseorang tentang siapakah yang menentukan rencananya? Sebagian besar manusia akan lupa Sang Penentu dari rencananya karena mereka terlena di dalam nikmatnya perjalanan yang pada akhirnya akan mennyombongkan diri seolah-olah semua itu adalah hasil kerja kerasnya tanpa melibatkan Tuhan didalamnya. 

Libatkan Tuhan dalam setiap aktifitas. 
Dengan melibatkan-Nya maka akan lebih mudah menjalankan semua rencana yang telah dipersiapkan. Walaupun ada saatnya ketika hambatan menjadi batu halangan yang datang. Semua yang terencana hendaknya sesuai dengan aturan-Nya dan sejalan dengan yang diperintahkan-Nya. Hukum pasti kehidupan berlangsung selama manusia menjalankannya, sesuai dengan manfaat yang akan dihasilkan ketika dia melakukan sesuatu. Perlu disadari bahwa semua yang diakukan tidak kan sia-sia. Semua itu tidak lepas dari hokum sebab-akibat yang berlaku, dan selebihnya diluar itu adalah kehendak Sang Penentu rencana. 


Ketika usaha dan do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah, itu berarti Allah mempunya rencana lain yang jauh lebih indah daripada rencana yang kita buat.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An'aam:59]

Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]

Marilah kita beriman kepada takdir Allah SWT, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Semua sudah diatur oleh-Nya, kita hanya tinggal menjalani saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment Using Facebook