Kamis, 14 Maret 2013

Shalat Istikharah

Adalah tabiat manusia manakala dihadapkan pada dua pilihan atau lebih yang sangat sulit atau di luar kemampuan analisanya untuk memilih, maka ia cenderung meminta pertolongan dari kekuatan supra natural atau mencari tanda-tanda dari alam dalam menentukan pilihannya.

Ketika datang Islam, kebiasaan itu diluruskan dengan diajarkannya shalat Istikharah. Istikharah artinya meminta pilihan. Sholat istikharah adalah shalat untuk meminta pilihan kepada Allah.


Manusia adalah makluq yang dengan kesempurnaannya tetap memiliki kekurangan, terutama dalam menentukan pilihan yang di luar kemampuan analisanya. Ia tidak mampu melihat kegaiban masa depan apakah itu baik atau buruk nantinya. Inilah hikmah dari disunnahkannya Istikharah, agar manusia tetap menjalin hubungan dengan Tuhannya saat akan menentukan pilihan, meminta pertolonganNya agar ia bisa memilih dengan baik dan tepat. Allah berfirman:”Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-sekali tidak ada pilihan bagi mereka (apabila Allah telah menentukan). Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. Dan Tuhamnu mengetahui apa yang disembunyikan dalam dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagiNyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagiNyalah segala penentuan dan hanya kepadaNyalah kami dikembalikan (al-Qasas 68-70).

Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat lemah, mereka sangat membutuhkan bantuan dari Allah Ta’ala dalam semua urusan mereka. Hal itu karena dia tidak mengetahui hal yang ghaib sehingga dia tidak bisa mengetahui mana amalan yang akan mendatangkan kebaikan dan mana yang akan mendatangkan kejelekan bagi dirinya. Karenanya, terkadang seseorang hendak mengerjakan suatu perkara dalam keadaan dia tidak mengetahui akibat yang akan lahir dari perkara tersebut atau hasilnya mungkin akan meleset dari perkiraannya.

Hukum Istikharah
Para ulama sepakat mengatakan bahwa shalat istikharah hukumnya sunnah pada saat seorang muslim dihadapkan pada permasalahan yang memerlukan keputusan untuk memilih.

Dalil Shalat Istikharah
Dalil shalat Istikharah adalah sbb:
1. عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: ( كان رسول الله ( يعلمنا الاستخارة في الأمور كلها كما يعلمنا السورة من القرآن، يقول: (إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الْأَمْرَ ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ خَيْرًا لِي فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ قَالَ أَوْ فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ)

Artinya: Dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata: Rasulullah saw mengajarkan kepada kami istiharah pada semua perkara sebagaimana beliau mengajarkan al-Quran. Beliau bersabda:”Apabila salah satu dari kalian dihadapkan pada permasalahan maka hendaknya ia shalat dua rakaat selain shalat fardlu, kemudian hendaknya ia berdoa (artinya) Ya Allah sesungguhnya aku meminta pilihanMu dengan ilmuMu, dan meminta keputusan dengan ketentuanMu, Aku meminta kemurahanMu, sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan aku tidak ada daya untuk menentukan, Engkaulah yang mengetahui dan aku tidaklah tahu apa-apa, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara gaib. Ya Allah sekiranya Engkau mengetahui bahwa perkara ini (lalu menyebutkan masalahnya) adalah baik bagiku saat ini dan di waktu yang akan datang, atau baik bagi agamaku dan kehidupanku serta masa depanku maka tentukanlah itu untukku dan mudahkanlah ia bagiku lalu berkatilah. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku untuk agamaku dan kehidupanku dan masa depan perkaraku, atau bagi urusanku saat ini dan di masa mendatang, maka jauhkanlah ia dariku dan tentukanlah bagiku perkara yang lebih baik darinya, apapun yang terjadi, lalu ridlailah ia untukku”. (h.r. Ahmad, Bukhari dan Ashabussunan).

2. Dalil lain shalat Istikharah adalah hadist riwayat Muslim yang menceritakan pada saat Zainab ra akan dipersunting leh Rasulullah saw, beliau menjawab “Aku belum bisa memberi jawaban hingga aku melakukan istikharah kepada Tuhanku. Lalu beliau memasuki tempat shalatnya dan turunlah al-Qur’an.


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami istikharah dalam setiap urusan yan kami hadapi sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Qur’an. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang dari kalian menghadapi masalah maka ruku’lah (shalat) dua raka’at yang bukan shalat wajib kemudian berdo’alah: 

Allahumma inniy astakhiiruka bi ‘ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim, fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta’lamu wa laa ‘Abdullah’lamu wa anta ‘allaamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amru khairul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” atau; ‘Aajili amriy wa aajilihi faqdurhu liy wa yassirhu liy tsumma baarik liy fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amru syarrul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” aw qaola; fiy ‘aajili amriy wa aajilihi fashrifhu ‘anniy washrifniy ‘anhu waqdurliyl khaira haitsu kaana tsummar dhiniy.”

(Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang Agung. Karena Engkau Maha Mampu sedang aku tidak mampu, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian jadikanlah aku ridha dengan ketetapan-Mu itu”. Beliau bersabda: “Dia sebutkan urusan yang sedang diminta pilihannya itu”. (HR. Al-Bukhari no. 1162)

Tatacara Shalat Istikharah
Para ulama menjelaskan bahwa tatacara shalat istikharah adalah seperti sholat sunnah biasa, dijalankan dalam dua rakaat. Tidak ada waktu khusus untuk melaksanakannya, namun shalat istikharah disunnah serta merta saat seseorang menghadapi masalah. Imam Nawawi, Ibnu Hajar dan Imam Iraqi mengatakan, sah melaksanakan istikharah yang dibarengkan dengan sholat sunnah lainnya asalkan dengan niat. Misalkan seseorang hendak melaksanakan sholat sunnah rawatib lalu ia juga niat untuk istikharah maka itu sah. (Fathul Bari 11/221).

Selesai melaksakan shalat lalu membaca doa di atas. Tidak ada bacaan khusus atau surat khusus dalam shalat Istikharah. Beberapa refrensi menyebutkan aada raka'at pertama, setelah membaca al-Fatihah disunatkan membaca surat al-Kaafiruun, dan pada raka'at kedua (setelah al-Fatihah) membaca surat al-Ikhlas. Itu mengikuti shalat hajat karena Istikharah termasuk shalat hajat. Begitu juga diperbolehkan mengulang-ulang shalat Istikharah karena itu termasuk doa dan dalam beberapa riwayat Rasulullah saw mengulang doa terkadang sampai tiga kali.

Bagi yang berhalangan melaksanakan shalat, misalnya perempuan yang sedang datang bulan, maka diperbolehkan baginya untuk hanya membaca doa Istikharah.
Dalam Istikharah siapakah yang memilih?


Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mensyariatkan adanya istikharah, yaitu permintaan kepada Allah agar Dia berkenan memberikan hidayah kepadanya menuju kepada kebaikan. Yang mana doa istikharah ini dipanjatkan kepada Allah setelah dia mengerjakan shalat sunnah dua rakaat.

Allah Ta’ala berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ. وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ.  وَهُوَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Qashash: 68-70)


Allah memberi kita karunia akal dan nalar yang bebas. Dengan akal dan nalar kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dan dengan akal dan nalar tersebut kita mempunyai kemampuan untuk menganalisa dan menentukan pilihan dalam perkara dunia.

Selain itu banyak petunjuk agama yang mengajarkan kepada manusia bagaimana menentukan perkara apakah itu baik atau buruk. Rasulullah saw bersabda “الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَاطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي الْقَلْبِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ” artinya: kebaikan adalah apa yang membuat hati tenang dan mejadikan nafsu tenang, keburukan adalah apa yang membuat hati gelisah dan menimbulkan keraguan” (h.r. Ahmad dll.)

Dalam masalah jodoh, Rasulullah saw bersabda “تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ” artinya: seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, yaitu karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang mempunyai agama niscaya kamu beruntung” (h.r. Muslim dll).

Kedua hadist tersebut menunjukkan bahwa memilih adalah pekerjaan manusia. Agama memberikan petunjuk rambu-rambu untuk memilih dengan baik.

Rasulullah saw juga mencontohkan dalam sebuah hadist “مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَيْسَرُ مِنْ الْآخَرِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ” artinya: Rasulullah saw ketika dihadapkan dua pilihan, beliau selalu memilih yang termudah selama itu tidak mengandung dosa, apabila itu mengandung dosa maka beliau menjauhinya” (h.r. Muslim dll). Beliau pun ketika memilih sesuatu menggunakan analisa dan nalar beliau, namun selalu mengutamakan yang mudah.

Begitu juga ketika seorang hamba dihadapkan kepada dua pilihan yang sulit dan kemudian dia melaksanakan shalat istikharah sesuai ajaran Rasulullah, tidak berarti ia lantas menyuruh Allah memilihkan pilihannya dan ia hanya cukup berdoa saja dan menunggu petunjuk dan berpangku tangan. Itu adalah anggapan yang kurang tepat.

Ilustrasinya sbb: ketika kita seorang mahasiswa atau murid memasuki ruang ujian biasanya kita selalu berdoa agar bisa mengerjakan dengan baik dan memilih jawaban dengan tepat. Apakah mengerjakan ujian dan memilih jawaban tersebut cukup dengan doa tadi? Tentu tidak. Jawaban ujian dan memilih jawaban ujian hanya bisa dilakukan melalui belajar sebelumnya, sedangkan fungsi dia adalah agar ketika mengerjakan ujian dan memilih jawaban tersebut kita diberi kekuatan dan kemampuan sehingga bisa mengerjakan dengan tepat. Begitu juga sholat istikharah adalah doa agar dalam kita memilih, kita diberikan kekuatan oleh Allah dan tidak salah pilih, namun pekerjaan memilih itu sendiri harus kita lakukan dengan baik melalui analisa, kajian, penyelidikan, musyawarah dll. Setelah proses tersebut kita matangkan, maka dengan disertai doa yaitu shalat istikharah mudah-mudahan pilihan kita tidak salah.

Yang lebih salah lagi, manakala pilihan itu ternyata kurang sesuai dengan yang diharapkan, ia mulai menyalahkan istikharahnya atau naudzubillah kalau sampai menyalahkan Tuhannya.

Pada masalah apa kita disunnahkan shalat istikharah?
Sebenarnya shalat istikharah disunnahkan ketika kita menghadapi pilihan perkara yang halal, seperti pekerjaan, pernikahan, perdagangan dll. Itu yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang hamba. Rasulullah saw bersabda “من سعادة ابن آدم استخارته إلى الله ، ومن شقاوة ابن آدم تركه استخارة الله” artinya: termasuk kemuliaan bani Adam adalah ia mau beristikharah kepada Allah, dan termasuk kedurhakaannya adalah manakala ia tidak mau beristikharah kepada Allah” (h.r. Hakim).

Dalam hadist shalat istikharah di atas juga disebutkan “Rasulullah saw mengajarkan istikharah kepada kami dalam semua perkara”. Ini menunjukkan pentingnya istikharah dalam semua perkara yang kita hadapi. Maka sebaiknya kita sering melaksanakan shalat ini manakala menghadapi semua masalah dunia. Dan kurang tepat kiranya kalau kita melaksanakan shalat istkhoroh hanya ketika hendak menikah.

Ibnu Hajar menuqil ungkapan Abu Jumrah mengatakan bahwa shalat Istikharah tidak dilakukan untuk perkara wajib dan sunnah. Begitu juga istikharah tidak dilakukan untuk memilih perkara makruh dan haram. Kecuali apalagi terjadi dilema anatara dua perkara wajib atau sunnah, misalnya seseorang yang mampu melaksanakan ibadah Haji, ia beristikharah apakah berangkat tahun ini atau tahun depan.

Jawaban istikharah
Tidak ada dalil yang menunjukkan tanda-tanda jawaban dari shalat istikharah. Ini memperkuat uraian di atas bahwa yang memilih adalah kita, bukan Allah memilihkan kita, tetapi kita berdoa agar Allah memberikan kekuatan kita dalam memilih. Ulama besar Syafii, Iz bin Abdussalam mengatakan setelah istikharah seorang hamba hendaknya mengambil keputusan yang diyakininya dengan pasti. Ulama lain Kamaluddin Zamlakani mengatakan selesai shalat istikharah hendaknya seseorang mengambil keputusan yang sesuai keyakinannya, baik itu sesuai dengan bisikan hatinya atau tidak, karena kebaikan adalah pada apa yang ia yakini, bukan dari apa yang cocok di hatinya. Bisikan hati kadang dipengaruhi oleh perasaan subyektif dan tidak ada dalil yang menyatakan seperti itu. Imam Qurtubi juga mengatakan hal yang sama dan menambahkan hendaknya hatinya dibersihkan dari hal-hal yang mempengaruhinya. Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa sebaiknya tidak mengikuti kecenderungan hati karena biasanya itu dipengaruhi oleh hal lain sebelum melaksanakan shalat istkharah.

Itu benar, misalnya seseorang yang sudah dirundung rasa cinta mendalam terhadap seseorang, mana mungkin ketika dia istikharah akan mendapatkan jawaban untuk tidak memilihnya. Setelah memilih dengan analisa dan pertimbangannya yang matang, hendaknya juga diikuti sikap tawakkal, bahwa itu mudah-mudahan pilihan yang tepat dan mudah-mudahan Allah akan memudahkan semuanya. Banyak orang menanti jawaban istikharah melalui mimpi, atau melalui membuka Quran secara acak lalu mencoba mencari jawabannya melalui ayat yang tak sengaja terbuka, atau dengan butiran-butiran tasbih dan lain-lain. Itu semua tidak mempunyai landasan dalil dan hadist.

Waktu Yg Tepat Tuk Shalat Istikarah

Para ulama berbeda pendapat tentang waktu berdoa ketika  shalat istikharah. Sebagian mereka berpendapat berdo’a dilakukan setelah shalat, dan sebagian lagi berpendapat diucapkan sebelum salam.

Dan saya sendiri berpandangan, waktu yang lebih utama untuk berdo’a saat shalat istikharah adalah ketika orang itu tengah bersujud (dalam shalat istikharah, -pent.). Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda, “Keadaan yang paling dekat

antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia bersujud. Maka berdo’alah kalian kepadaNya. Kemungkinan besar do’a kalian akan terkabul.” Maksudnya, do’a itu lebih berpeluang dikabulkan, ketika ia berdo’a dalam keadaan sujud. Karena sujud adalah kondisi paling dekat seorang hamba dengan rahmat Allah, dan ampunanNya, serta pengabulan do’a baginya oleh Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itu kondisi sujud merupakan saat paling tepat  untuk memanjatkan do’a, dan merendahkan diri dalam memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla.  Kemudian terdapat pula waktu-waktu lainnya sebelum shalat, atau  sebelum selesainya shalat istikharah, atau setelahnya. Seluruh waktu tersebut boleh digunakan untuk berdo’a. Akan tetapi, saya berpendapat bahwasanya waktu sujud adalah waktu yang lebih tepat untuk memanjatkan doa bagi orang yang melaksanakan shalat istikharah.


Berikut beberapa permasalahan yang sering ditanyakan berkenaan dengan istikharah:

  • Apakah boleh istikharah dengan doa selain doa di atas atau dengan bahasa Indonesia?

Jawab: Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu berkata dalam hadits di atas, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami istikharah dalam setiap urusan yang kami hadapi sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Qur’an.”

Ucapan ini menunjukkan bahwa dalam istikharah seseorang hanya boleh membaca doa di atas sesuai dengan konteks aslinya, tidak boleh ada penambahan dan tidak boleh juga ada pengurangan. Hal itu karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menyerupakan pengajaran istikharah seperti pengajaran surah Al-Qur`an. Maka sebagaimana suatu ayat dalam Al-Qur`an tidak boleh ditambah atau dikurangi atau dirubah maka demikian halnya dengan doa istikharah. Karenanya tidak boleh berdoa dengan membaca terjemahannya semata, tapi dia harus membacanya sebagaimana Nabi mengajarkannya.

Barangsiapa yang berdoa dengan terjemahannya maka dia tidak teranggap melakukan istikharah, akan tetapi dia hanya dianggap sedang berdoa kepada Allah. Hal ini telah diisyaratkan oleh Muhammad bin Abdillah bin Al-Haaj Al-Maliki rahimahullah dalam Al-Madkhal (4/37-38)

  • Apakah boleh langsung berdoa dengan doa di atas tanpa melakukan shalat sebelumnya?

Jawab: Wallahu a’lam, yang nampak bahwa 2 rakaat dengan doa ini merupakan satu kesatuan dalam istikharah. Karenanya barangsiapa yang hanya berdoa tanpa mengerjakan shalat maka dia tidak dianggap mengerjakan istikharah yang tersebut dalam hadits ini. Walaupun dia tetap dianggap sebagai orang yang berdoa kepada Allah.

Akan tetapi jika dia ada uzur dalam mengerjakan shalat -misalnya wanita yang tengah haid atau nifas-, maka dia boleh langsung berdoa dan itu sudah dianggap sebagai istikharah karenanya adanya uzur untuk tidak mengerjakan shalat. Ini merupakan mazhab Al-Hanafiah, Al-Malikiah, dan Asy-Syafi’iyah. Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Adzkar hal. 112, “Jika dia tidak bisa mengerjakan shalat karena ada uzur, maka hendaknya dia cukup beristikharah dengan doa.”

  • Apakah dua rakaat ini merupakan shalat khusus, ataukah berlaku untuk semua shalat sunnah dua rakaat?

Jawab: Lahiriah hadits menunjukkan ini merupakan shalat dua rakaat khusus dengan niat untuk istikharah. Hanya saja jika seseorang shalat sunnah rawatib dengan niat rawatib sekaligus niat istikharah (menggabungkan niat), maka itu sudah cukup baginya dan dia sudah boleh langsung berdoa setelahnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Jika dia meniatkan shalat itu dengan niatnya dan dengan niat shalat istikharah secara bersamaan (menggabungkan niatnya, pent.) maka shalatnya itu sudah syah dianggap sebagai istikharah, berbeda halnya jika dia tidak meniatkannya (sebagai shalat istikharah).” (Fath Al-Bari: 11/221)

Sekedar menguatkan isi hadits, bahwa dua rakaat yang dimaksud haruslah merupakan shalat sunnah. Karenanya shalat subuh tidak bisa diniatkan sebagai shalat istikharah karena dia merupakan shalat wajib.

  • Adakah surah khusus yang disunnahkan untuk dibaca dalam shalat istikharah?

Jawab: Al-Hafizh Al-Iraqi rahimahullah berkata, “Saya tidak menemukan sedikitpun dalam jalan-jalan hadits istikharah adanya penentuan surah tertentu yang dibaca di dalamnya.” (Umdah Al-Qari`: 7/235)

Inilah pendapat yang benar karena tidak ada satupun dalil yang menunjukkan adanya surah tertentu yang lebih utama dibaca dalam shalat istikharah. Sementara tidak boleh menentukan lebih utamanya suatu surah dibandingkan yang lainnya dari sisi bacaan kecuali dengan dalil yang shahih.

  • Bagi yang tidak menghafal doanya, apakah dia bisa membacanya dari sebuah buku?

Jawab: Yang jelas, yang pertama kita katakan: Hendaknya dia berusaha semaksimal mungkin untuk menghafalnya. Jika dia tidak sanggup, maka Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kemampuannya. Dalam keadaan seperti ini dia diperbolehkan membaca doa ini dengan melihat kepada kitab atau catatannya. Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab ketika diajukan pertanyaan yang senada dengan di atas, “Jika engkau menghafal doa istikharah atau engkau membacanya dari kitab, maka tidak ada masalah. Hanya saja kamu wajib bersungguh-sungguh dalam berkonsentrasi dan khusyu’ kepada Allah serta jujur dalam berdoa.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah: 8/161)

  • Bolehkah shalat istikharah pada waktu yang terlarang shalat?

Jawab: Jika shalat istikharahnya masih bisa ditunda hingga keluar dari waktu yang terlarang maka inilah yang lebih utama dia kerjakan. Akan tetapi shalat istikharah ini jika tidak bisa diundur atau dia butuhkan saat itu juga, maka dia boleh mengerjakannya saat itu juga walaupun pada waktu yang terlarang. Karena jika shalat istikharah itu dibutuhkan secepatnya, maka jadilah dia shalat sunnah yang disyariatkan karena adanya sebab, sementara sudah dimaklumi bahwa waktu-waktu terlarang shalat ini tidak berlaku pada shalat-shalat sunnah yang mempunyai sebab, seperti tahiyatul masjid, shalat sunnah wudhu, dan semacamnya.

Bolehnya shalat sunnah yang mempunyai sebab dikerjakan pada waktu-waktu terlarang merupakan mazhab Imam Asy-Syafi’i dan sebuah riwayat dari Imam Ahmad, serta pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah. (Lihat Majmu’ Al-Fatawa: 23/210-215)

  • Apa yang dia lakukan setelah istikharah?

Jawab: Sebelumnya butuh diingatkan bahwa sebelum melakukan istikharah hendaknya dia mengosongkan hatinya dari kecondongan kepada salah satu urusan dari dua urusan yang dia akan mintai pilihan (tidak berpihak kepada satu pilihan). Akan tetapi hendaknya dia melepaskan diri dari semua pilihan tersebut dan betul-betul pasrah menyerahkan nasibnya dan pilihannya kepada Allah Ta’ala.

Imam Al-Qurthuby berkata, “Para ulama menyatakan: Hendaknya dia mengosongkan hatinya dari semua pikiran (berkenaan dengan urusan yang akan dia hadapi) agar hatinya tidak condong kepada salah satu urusan (sebelum dia istikharah).” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an: 13/206)

Kemudian, setelah dia melakukan istikharah, maka hendaknya dia memilih untuk mengerjakan apa yang hendak dia lakukan dari urusan yang tadinya dia minta pilihan padanya. Jika urusan itu merupakan kebaikan maka insya Allah Allah akan memudahkannya dan jika itu merupakan kejelekan maka insya Allah Allah akan memalingkannya dari urusan tersebut.

Muhammad bin Ali Az-Zamlakani rahimahullah berkata, “Jika seseorang sudah shalat istikharah dua rakaat untuk suatu urusan, maka setelah itu hendaknya dia mengerjakan urusan yang dia ingin kerjakan, baik hatinya lapang/tenang dalam mengerjakan urusan itu ataukah tidak, karena pada urusan tersebut terdapat kebaikan walaupun mungkin hatinya tidak tenang dalam mengerjakannya.” Dan beliau juga berkata, “Karena dalam hadits (Jabir) tersebut tidak disebutkan adanya kelapangan/ketenangan jiwa.” (Thabaqat Asy-Syafi’iah Al-Kubra: 9/206) Maksudnya: Dalam hadits Jabir di atas tidak disebutkan bahwa hendaknya dia mengerjakan apa yang hatinya tenang dalam mengerjakannya, wallahu a’lam.

Karenanya, termasuk khurafat adalah apa yang diyakini oleh sebagian orang bahwa: Siapa yang sudah melakukan istikharah maka dia tidak melakukan apa-apa hingga mendapatkan mimpi yang baik atau mimpi yang akan mengarahkannya dan seterusnya. Ini sungguh merupakan perbuatan orang yang jahil tatkala dia menyandarkan urusannya pada sebuah mimpi, wallahul musta’an.

  • Jika hatinya masih ragu-ragu atau hatinya belum mantap dalam mengerjakan urusan yang tadinya dia sudah beristikharah untuknya. Apakah dia boleh mengulangi shalat istikharahnya?

Jawab: Boleh berdasarkan beberapa dalil di antaranya:

  1. Istikharah merupakan doa, dan di antara kebiasaan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam berdoa adalah mengulanginya sebanyak tiga kali. Hadits ini kami bawakan bukan untuk menunjukkan shalat istikharah diulang sebanyak tiga kali, akan tetapi hanya untuk menunjukkan bolehnya mengulangi doa. 
  2. Shalat istikharah adalah shalat yang disyariatkan karena adanya sebab. Karenanya, selama sebab itu masih ada dan belum hilang maka tetap disyariatkan mengerjakan shalat ini.

Inilah yang dipilih oleh sejumlah ulama di antanya: Imam Badruddin Al-Aini dalam Umdah Al-Qari` (7/235), Ali Al-Qari dalam Mirqah Al-Mafatih (3/406), dan Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (3/89).

  • Haruskah shalat istikharah dikerjakan di malam hari?

Jawab: Dalam hadits di atas tidak ada keterangan waktu pengerjaannya. Karena shalat ini bisa dikerjakan kapan saja baik siang maupun malam hari. Barangsiapa yang meyakini shalat ini hanya bisa dikerjakan di malam hari maka keyakinannya ini keliru. Walaupun tentunya jika dia mengerjakannya pada waktu-waktu dimana doa mustajabah -seperti antara azan dan iqamah, sepertiga malam terakhir, dan seterusnya-, maka itu lebih utama.

Demikian beberapa pertanyaan yang sempat hadir dalam ingatan kami, jika ada pertanyaan lain silakan dituliskan pada kolom komentar.

Jumat, 08 Maret 2013

Ini baru Namanya "Buah Dada".


Ada buah unik bernama Loofah yang sangat mirip sekali dengan payudara wanita di Vietnam. Buah unik ini berwarna merah muda dengan ukuran yang panjang dengan bagian bawahnya agak membesar yang unik dari buah Loofah ini adalah memeiliki puting seperti puting wanita, jika diperhatikan buah Loofah ini sangat mirip sekali dengan payudara wanita penasaran seperti apa buah ini lihat foto fotonya dibawah ini.








Asma dan Solusinya.

Pada artikel sebelumnya, Ayah_Alif pernah menjelaskan tentang "Penyakit Paru2 dan Solusinya". Namun kini, Ayah_Alif mencoba untuk menjelaskan tentang Penyakit Asma. Penyakit Asma sering kita dapati ketika seseorang sulit untuk bernafas, pada saat demikian mereka memerlukan semacam alat bantu untuk menormalkan lagi pernafasannya. Penyakit asma merupakan penyakit yang terjadi pada gangguan saluran pernafasan, sehingga seseorang akan sulit untuk bernafas. Penyakit asma juga merupakan penyakit turunan, jadi jika anda mengidap penyakit asma maka anak atau cucu anda bisa juga mengidap penyakit tersebut.
Gejala umum yang terjadi pada penderita penyakit asma adalah nafas bunyi. Dimana nafas bunyi bagi penderita asma jika dimalam hari nafasnya lebih kencang dibanding dengan bagi bukan penderita asma. Kemudian gejala umum yang lainnya yaitu sering mengalami sesak nafas.
Berikut ini beberapa penyebab penyakit asma diantara lain adalah sebagai berikut:
Bawaan atau Turunan
Seperti yang sudah dijelaskan diatas kalau penyakit asma merupakan penyakit turunan. Jika dikeluarga kita memiliki riwayat penyakit asma, maka tidak menutup kemungkinan Anda atau anak anda juga akan mengidap penyakit tersebut. Jadi, perlu diketahui kalau penyakit asma itu tidak menular melainkan penyakit turunan.
Oleh karena itu, jika Anda sudah mengetahui kalau diriwayat keluarga kita ada yang mengidap penyakit asma, maka segeralah untuk mengambil tindakan untuk mengobati penyakit asma ini dengan cara berkonsultasi pada dokter spesialis.
Faktor Lingkungan
Lingkungan yang kotor yang dipenuhi dengan debu dan asap merupakan awal dari timbulnya penyakit asma. Debu yang terdapat dirumah maupun ditempat umum lainnya adalah penyebab terjadinya penyakit asma, begitu halnya dengan asap rokok, asap kendaraan dan asap-asap lainnya, kesemuanya itu merupakan faktor terjadinya penyakit asma.
Oleh karena itu, dianjurkan untuk senangtiasa menjaga pola hidup yang sehat. Membersihkan rumah dari debu sesering mungkin dan sebisa mungkin menghindarkan anak dari benda-benda yang mudah pencetus alergi seperti boneka yang berbulu halus maupun bantal atau kasur dari kapok.
Faktor Makanan
Makanan juga menyebabkan timbulnya penyakit asma. Beberapa makanan yang dapat menyebabkan penyakit asma dan perlu untuk dihindari diantaranya adalah makanan junk food yang memiliki kadar MSG dan pengawet yang tinggi, minuman es atau dingin, kacang dan coklat yang mengandung allergen begitu juga dengan kacang tanah.
Udara Dingin
Cuaca suhu dingin juga merupakan faktor timbulnya penyakit asma. Penggunaan AC dengan suhu dan serta cuaca dingin didaerah pegunungan bisa menyebabkan terjadinya penyakit asma.
Beberapa penjelasan tentang penyebab terjadi penyakit asma diatas, itu dapat diobati dengan berkonsultasi kepada dokter ahli, guna mendapatkan tindakan lebih dan pemberian resep obat yang dapat dikonsumsi sehingga kita terhindar dari penyakit asma.

Definisi Asma:
Asma adalah penyakit inflamasi (radang) kronik saluran napas menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan nafas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi (nafas berbunyi ngik-ngik), sesak nafas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam menjelang dini hari. Gejala tersebut terjadi berhubungan dengan obstruksi jalan nafas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversible dengan atau tanpa pengobatan. Seperti diketahui, saluran napas manusia bermula dari mulut dan hidung, lalu bersatu di daerah leher menjadi trakea (tenggorok) yang akan masuk ke paru. Di dalam paru, satu saluran napas trakea itu akan bercabang dua, satu ke paru kiri dan satu lagi ke paru kanan. Setelah itu, masing-masing akan bercabang-cabang lagi, makin lama tentu makin kecil sampai 23 kali dan berujung di alveoli, tempat terjadi pertukaran gas, oksigen (O 2 ) masuk ke pembuluh darah, dan karbon dioksida (CO 2 ) dikeluarkan.
Gambar 1: saluran pernafasan manusia
Seperti diketahui, saluran napas manusia bermula dari mulut dan hidung, lalu bersatu di daerah leher menjadi trakea (tenggorok) yang akan masuk ke paru. Di dalam paru, satu saluran napas trakea itu akan bercabang dua, satu ke paru kiri dan satu lagi ke paru kanan. Setelah itu, masing-masing akan bercabang-cabang lagi, makin lama tentu makin kecil sampai 23 kali dan berujung di alveoli, tempat terjadi pertukaran gas, oksigen (O2) masuk ke pembuluh darah, dan karbon dioksida (CO 2 ) dikeluarkan.
Bagaimana cara mengetahui asma?
Saat anda mendatangi dokter anda untuk konsultasi, dokter anda akan menanyakan mengenai riwayat kesehatan keluarga anda yaitu apakah ada salah seorang anggota keluarga anda yang menderita asma? Pertanyaan ini akan mendukung pendapat mereka untuk melakukan test fungsi paru anda atau test pernafasan untuk menyakinkan hasil pemeriksaan sebelum mereka memberikan resep/obat-obatan dan terapi kepada anda.Test fungsi saluran pernafasan/paru digunakan untuk mengukur kemampuan bernafas anda. Hasil pemeriksaan rontgen paru dapat memperlihatkan jika ada sumbatan pada saluran pernafasan yang merupakan indikasi asma.
Siapa saja yang berisiko asma?
Asma adalah penyakit yang dapat terjadi pada siapa saja dan dapat timbul segala usia, meskipun demikian, umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia dibawah lima tahun dan orang dewasa pada usia sekitar tigapuluh tahunan. Para ahli asma mempercayai bahwa asma merupakan penyakit keturunan dan sebagian besar orang yang menderita asma karena alergi terhadap sumber alergi tertentu.
Gejala Asma
Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak dan suara napas yang berbunyi ngik-ngik dimana seringnya gejala ini timbul pada pagi hari menjelang waktu subuh, hal ini karena pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang kadarnya rendah ketika pagi dan berbagai faktor lainnya.
Penderita asma akan mengeluhkan sesak nafas karena udara pada waktu bernafas tidak dapat mengalir dengan lancar pada saluran nafas yang sempit dan hal ini juga yang menyebabkan timbulnya bunyi ngik-ngik pada saat bernafas. Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan yang terjadi dapat berupa pengerutan dan tertutupnya saluran oleh dahak yang dirpoduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon untuk mengeluarkan dahak tersebut. Gambar dibawah ini adalah gambar penampang paru dalam keadaan normal dan saat serangan asma.
Salah satu ciri asma adalah hilangnya keluhan di luar serangan. Artinya, pada saat serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita (banyak batuk, sesak napas hebat dan bahkan sampai seperti tercekik), tetapi di luar serangan dia sehat-sehat saja (bisa main tenis 2 set, bisa jalan-jalan keliling taman, dan lain-lain). Inilah salah satu hal yang membedakannya dengan penyakit lain (keluhan sesak pada asma adalah revesibel, bisa baik kembali di luar serangan, sementara pada PPOK adalah irreversible , tetap saja sesak setiap waktu).
Faktor Pencetus Serangan Asma
A. Faktor penjamu, faktor pada pasien
  • Aspek genetik
  • Kemungkinan alergi
  • Saluran napas yang memang mudah terangsang
  • Jenis kelamin
  • Ras/etnik
B. Faktor lingkungan
  1. Bahan-bahan di dalam ruangan :
    • Tungau debu rumah
    • Binatang, kecoa
  2. Bahan-bahan di luar ruangan
    • Tepung sari bunga
    • Jamur
  3. Makanan-makanan tertentu, Bahan pengawet, penyedap, pewarna makanan
  4. Obat-obatan tertentu
  5. Iritan (parfum, bau-bauan merangsang, household spray )
  6. Ekspresi emosi yang berlebihan
  7. Asap rokok dari perokok aktif dan pasif
  8. Polusi udara dari luar dan dalam ruangan
  9. Infeksi saluran napas
  10. Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik tertentu.
  11. Perubahan cuaca
2.gif3.gif4.gif5.gif6.gif1.gif
Bagaimana asma diobati?
Pada dasarnya penanganan asma yang paling efektif adalah dengan menghindari faktor-faktor pencetus asma dan menggunakan obat asma untuk mengurangi pembengkakan saluran pernafasan. Pengobatan asma secara cepat/jangka pendek yaitu dengan menggunakan ob at pelega saluran pernafasan seperti inhaler dan nebulizer yang berfungsi menghentikan serangan asma. Pengobatan jangka panjang yang berfungsi untuk mencegah terjadinya serangan asma adalah dengan menggunakan obat-obatan seperti steroid berfungsi untuk tetap membuat saluran pernafasan terbuka dan menggurangi pembengkakan.
Bagaimana asma dimonitor?
Anda dapat memonitor asma dirumah dengan menggunakan alat yang disebut "Peak Flow Meter". Alat ini akan memperlihatkan ukuran kecepatan maksimal udara yang dapat dihembuskan oleh paru-paru anda. Dengan memonitor puncak hembusan nafas anda setiap hari, anda dapat memprediksi dan mengambil tindakan pencegahan agar tidak mengalami serangan asma.
PERTOLONGAN DARURAT
Jika salah seorang sahabat dekat anda atau saudara anda mengalami serangan asma tiba-tiba ada 4 langkah pertolongan pertama yang dapat anda lakukan yaitu:
  • Bantu penderita asma untuk duduk tegak dan tenang
  • Beri mereka obat inhaler untuk membantu mereka bernafas, beri 4 kali semprotan secara bertahap.
  • Tunggu selama 4 menit.
  • Jika hanya ada sedikit perubahan atau bahkan tidak ada perubahan sama sekali, ulangi lagi pemberian inhaler 4 semprotan dan tunggu kembali selama 4 menit.
  • Jika masih tidak ada perubahan segerah hubungi rumah sakit/klinik terdekat, sambil terus berikan penderita obat inhaler hingga ambulan tiba.


Kamis, 07 Maret 2013

Meminta Ma'af VS Mema'afkan.


Antara “Kumaafkan” dengan “Maafkan aku”

Mana yang utama antara “minta maaf“ dengan “memberi maaf“ ? Jawabannya tergantung kebutuhan…tapi bila ditilik dari sisi syariah “memberi maaf” lebih utama daripada “minta maaf”, mengapa?

Memang dalam kehidupan sehari-hari, ketika ada sebuah perselisihan, dianggap selesai bila ada salah satu yang berselisih mendahului untuk meminta maaf, dan akhirnya keluarlah pemberian maaf. Dan ada sebuah imej bahwa kalau belum minta maaf tidak dianggap “jantan” atau “gentle” (saya bingung, kalau yang minta maafnya wanita, apakah dikatakan ‘gentle” juga ya…?). Ya…ketika ada yang meminta maaf, ada sebuah pengakuan secara tidak langsung bahwa yang bersangkutan mengakui sebuah kesalahan terhadap orang lain yang kebetulan terkena sebuah kesalahan dari sang peminta maaf. Dan sebaliknya, yang memberi maaf, adalah orang yang dianggap diakui kebenarannya, dan yang terkena dampak sebuah kesalahan.

Ada sedikit anehdot…seorang yang terinjak kakinya di dalam kendaraan umum, lalu ia menyadari kakinya terinjak dan berkata kepada yang menginjak, “maaf Pak, kaki saya terinjak kaki Bapak” atau “maaf, kaki Bapak menginjak kaki saya” atau “maaf…”, sambil menarik kakinya yang terinjak. Yang terkena dampak sebuah kesalahan yang mana dan yang harus minta maaf siapa… . Atau cara sedikit kasar…”Hai…kaki saya jangan diinjak!” , langsung yang menginjak kaki “minta maaf”. Atau cerita lain, “maaf Pak, matikan api rokoknya…” atau “maaf…saya terganggu dengan asap rokok Bapak…”, dijamin dah si perokok akan mengekspresikan sebuah ketidak sukaan terhadap larangan tersebut, kalau tidak malah diusir untuk tidak dekat-dekat dengan si perokok dengan alasan sebuah kenikmatan dan “hak azazi”

Secara psikologi, psikologis orang yang minta maaf, biasanya minta maaf agar kesalahan orang lain yang dampaknya terkena dirinya tidak terulang atau tidak lama mengenai dirinya, alias memutus rantai kesengsaraan. Dan secara psikologis orang yang diminta kemaafannya, ada sedikit kesuperioran diri, minimal “merasa” benar. Kalaupun memang benar, ia tidak akan memulai dengan permohonan maafnya, kecuali didahului dengan permintaan maaf terhadap dirinya dan akhirnya…ia pun minta maaf. Muncullah “saling memaafkan” …kosong – kosong… .

Makna memberi maaf sebenarnya adalah seseorang mempunyai hak, tapi orang tersebut melepaskan haknya, yaitu tidak menuntut qishash atasnya tidak juga menuntut denda kepadanya, maka tidak salah jika memaafkan adalah sifat luhur yang dimiliki oleh seorang muslim yang benar bertakwa dan menerapkan petunjuk agamanya, banyak nash-nash yang menganjurkan manusia menghiasi dirinya dengan sifat pemaaf yang merupakan sikap ideal bagi umat Islam, nash-nash tersebut mengkategorikan si pemaaf sebagai orang baik dan beruntung karena mendapat ridhaNya

Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti dalam firman-Nya :"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran: 134)

Dengan memaafkan berarti kita telah mampu menahan rasa amarah, bahkan terbebas dari rasa dengki maupun iri hati, yang merupakan cerminan dari kebeningan hati dan jiwanya dan paling utama adalah mereka mendapat kecintaan dan keridhaan-Nya, dengan memaafkan pula berarti kita telah melepaskan beban yang ada pada diri serta menyerahkan sepenuhnya kepada kekuatan yang maha dahsyat dari Allah Azza wa Jalla

Tidak mudah memang jadi seorang yang memiliki sikap pemaaf, karena sikap pemaaf dan toleransi merupakan tingkatan yang sangat tinggi yang tidak bisa dicapai kecuali orang yang membuka hatinya untuk menerima petunjuk Islam serta menghiasi jiwanya dengan akhlak Islam, mereka itulah yang selalu memohon ampunan, pahala dan kemuliaan dari Allah Azza wa Jalla.

Sungguh indah cara yang digunakan Al Qur’an dalam mengapresiasi dan mengangkat jiwa kemanusiaan ketingkat yang tinggi, Al Quran menetapkan bahwa orang-orang yang didzalimi boleh membela diri dan membalas dengan balasan atas kejahatan serupa, tetapi Al Quran tidak membiarkan kebencian dan balas dendam menguasai jiwa manusia tetapi sikap kelembutanlah lebih diutamakan, yang akan membawa pada sikap memaafkan dan toleransi, Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:

“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS. Asy-Syuura: 39-43)

Kejahatan apabila disikapi ataupun dibalas dengan kejahatan akan menyulut api permusuhan serta kedengkian yang akan bermuara pada dendam kesumat dan kebencian yang mendalam tetapi sebaliknya jika kejahatan dibalas dengan kebaikan berarti telah mampu memadamkan kobaran api permusuhan, kebencian dan rasa dengki, serta merubah sikap permusuhan menjadi persahabatan dan persaudaraan yang dipenuhi dengan senyum keceriaan, merubah rasa emosi menjadi kesabaran dan cinta kasih, itulah akhlak seorang mukmin sejati dalam masyarakat muslim selalu menahan amarah, mengendalikan emosi, memberikan maaf serta bersikap toleran antar sesama

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushshilat: 34)

"Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’raf: 199)

Akhlak seperti ini adalah ciri-ciri akhlak Rabbani yang mencakup secara keseluruhan dimana kejahatan bukan dibalas dengan kejahatan melainkan dibalas dengan akhlak karimah berupa pemaafan dan kebaikan

Sifat pemaaf Rasulullah telah mengakar kuat didalam diri beliau yang mulia. Ada sebuah cerita ketika seorang wanita yahudi menghadiahkan daging kambing beracun kepada Rasulullah, kemudian beliau makan sedikit yang diikuti oleh sebagian sahabat, kemudan Rasulullah berkata pada para sahabat  
“Hentikanlah, jangan makan daging ini beracun” kata Rasulullah kepada para Sahabat, selanjutnya wanita yahudi tersebut dibawa kehadapan Rasulullah.
“apa yang menyebabkan kamu berbuat seperti ini?” Tanya Rasulullah  
“Aku ingin tahu, jika engkau seorang Nabi, kami akan tenang dari gangguanmu.” Jawab wanita Yahudi itu.
“bukankah kita harus membunuhnya?” Seru para sahabat
“Tidak!”, jawab Rasulullah, maka wanita tersebut dibebaskan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  telah menanamkan kedalam diri kaum muslim sifat pemaaf dan toleran, meskipun diperlakukan jahat dan didzalimi, itulah sikap utama yang dimiliki Rasulullah, terbukti cara tersebut menjadi media yang ampuh dalam berdakwah, Rasulullah mengetahui bahwa orang-orang akan lebih bisa menerima dakwahnya dengan kelembutan dan toleransi bukan dengan cara kekerasan, kekasaran dan intimidasi.

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT”. Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, sebab itu mustahil kecuali Rasulullah SAW yang ma’shum (senantiasa dalam bimbingan Allah SWT). Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.

Sebagai penutup saya ingin sampaikan bahwa Allah Azza wa Jalla Maha Pengampun dan Maha Pemaaf, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan orang-orang yang berbuat dzalim pada kita, semoga kita tetap rendah hati menyadari bahwa manusia tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan maka sikap saling memaafkan adalah sikap yang luhur yang dianjurkan di Islam

Meminta Ma'af

Artikel ini, sebenarnya masih berkaitan dengan artikel sebelumnya (Marah dan Cara Mengendalikannya). Tak ada satu orangpun yang sempurna di dunia ini, semua pasti mempunyai kesalahan dan pernah berbuat kesalahan dengan seseorang. Dan yang paling penting adalah bagaimana menyadari kesalahan, meminta maaf dan tak mengunlanginya lagi. Banyak cara dilakukan dilakukan untuk mendapatkan maaf dari orang yang telah anda sakiti. Dan tips dan trick pada kesempatan kali ini Ayah_Alif akan mencoba menyajikan "Meminta Ma'af".  Dan hal ini bisa dikaitkan membantu anda dalam menjalankan tips kesehatan karena pada sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa meminta maaf dengan cara yang tulus dapat membantu Anda mengurangi stres dan mengurangi rasa bersalah.


Salah satu sisi negatif kehidupan modern adalah munculnya masyarakat yang egois. Hampir semua orang disibukkan oleh urusannya sendiri, dan tak peduli dengan urusan orang lain. Bila ada urusan pribadinya yang terganggu sedikit saja, muncul alasan untuk marah, membalas, atau mendendam.

Padahal, dengan cara seperti itu, ia malah akan menanggung dua beban sekaligus. Pertama, beban atas gangguan orang lain. Kedua, beban marah yang tersimpan di dalam dadanya.

Islam mengajarkan kepada kita untuk membebaskan diri dari segala bentuk beban yang tidak perlu. Kita harus memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan hawa nafsu yang merusak dan membebani. Kita buang beban itu dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memaafkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,” Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (Al-A’raf [7]: 199)

Meski Dizalimi

Seperti diriwayatkan oleh Ath-Thabari, ketika ayat di atas diturunkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) meminta penjelasan kepada Jibril tentang maksud dan kandungannya.

Jibril kemudian menjawab, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan agar engkau memaafkan, sekalipun kepada orang yang menganiayamu (agar engkau) memberi kepada orang yang menahan pemberiannya, dan (agar engkau) menyambung silaturahim, meskipun kepada orang yang sengaja memutuskannya.”

Dalam kisah yang diriwayatkan Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah memuji seorang bernama Abu Dhamdham di depan para Sahabat. “Apakah kalian mampu berbuat seperti yang dilakukan Abu Dhamdham?” kata Rasulullah SAW. Para Sahabat kemudian bertanya, “Apakah yang dilakukan Abu Dhamdham wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang ketika bangun pagi selalu mengucapkan doa, ‘Ya Allah, saya berikan jiwa dan nama baik saya. Jangan dicela orang yang mencela saya dan janganlah dizalimi orang yang menzalimi saya , serta jangan dipukul orang yang memukul saya,’.”

Alangkah mulianya ajaran Islam ini bila diterapkan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. Selain mulia, memaafkan juga bisa mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, keengganan untuk memaafkan hanya akan melahirkan kesengsaraan, karena membiarkan diri disakiti terus-menerus oleh diri kita sendiri.
Untuk itu, maafkanlah orang yang meminta maaf. Maafkan juga orang yang mengajukan pengakuan atas kesalahannya, dan terimalah permintaan maafnya tanpa banyak pertimbangan. Bahkan carikan alasan agar kita bias memaafkannya.

Sebelum Diminta

Al-Qur`an secara spesifik pernah menegur Abu BakarAsh- Shiddiq karena ia telah bersumpah akan memutuskan hubungan kekerabatan dan menghentikan bantuan keuangan yang biasa diberikannya kepada sepupunya, Misthah bin Utsatsah.

Peristiwa ini bukan tanpa alasan. Misthah telah melukai hati Abu Bakar karena ikut serta menyebarluaskan berita bohong (haditsul ifki) tentang ‘Aisyah, putri kesayangannya.

Dalam berita palsu itu disebutkan bahwa ‘Aisyah telah berbuat serong dengan lelaki lain. Siapa yang hatinya tidak marah jika putrinya difitnah seperti itu?

Akan tetapi Allah Ta’ala justru menurunkan ayat secara khusus ditujukan kepada Abu Bakar. Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana disebutkan dalam akhir Surat An-Nuur [24] ayat 22, “… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”

Setelah ayat itu disampaikan oleh Rasulullah SAW, secara spontan Abu Bakar menjawab pertanyaan Allah Ta’ala dengan berdoa, “Ya Allah, aku lebih suka agar Engkau mengampuniku, dan aku sudah memafkannya.”
Abu Bakar memberi maaf kepada sepupunya yang menyebarkan fitnah keji itu sebelum Misthah datang meminta maaf. Baginya, ampunan Allah Ta’ala jauh lebih penting dari pada sekadar permintaan maaf orang lain.
Ia tidak menunggu sepupunya merengek-rengek atau menunduk-nunduk meminta maaf. Meminta maaf atau tidak, ia telah memaafkannya.

Pangkal Pengampunan

Bagi orang yang bertakwa, ampunan Allah Ta’ala berada di atas segala-galanya. Karena itu kita hendaklah meminta ampunan-Nya siang dan malam. Beristighfar dan bertaubatlah kepada-Nya. Salah satu cara mudah meraih ampunan Allah Ta’ala adalah dengan memberi maaf kepada orang lain. Rasulullah SAW, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, berkata, “Barangsiapa memaafkan kesalahan seorang Muslim, maka Allah akan memaafkan kesalahannya.”

Sepanjang bukan menyangkut masalah hudud (hukuman yang diatur oleh Allah Ta’ala), seberapa pun besarnya kesalahan orang lain, kita harus bisa terbuka untuk memaafkannya. Ada dua cara yang efektif untuk memaafkan kesalahan orang lain. Pertama, kita menyadari bahwa manusia itu tempatya salah dan lupa. Kita sendiri sebagai pribadi, juga sering berbuat salah, baik kepada Allah Ta’ala maupun kepada sesama manusia.

Jika kita ingin dimaafkan orang lain, tentu orang lain yang berbuat salah kepada kita juga ingin dimaafkan oleh kita. Jika ada orang yang tidak meminta maaf atas kesalahannya, tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan. Dalam hal ini kita harus berhusnuzhan (baik sangka) kepadanya bahwa dia tidak memahami kesalahannya, atau karena ilmunya yang terbatas, atau mungkin saja persepsinya yang berbeda.

Cara kedua, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala itu Maha Pemaaf dan menyukai orang yang meminta maaf. Jika Allah Ta’ala mudah memberi maaf, mengapa kita pelit memaafkan orang lain?

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada yang lebih suka memaafkan selain Allah. Oleh karena itu, Dia mengutus para Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.” (Riwayat Bukhari).

Begitu besarnya pengampunan Allah Ta’ala sehingga Dia memaafkan orang yang meminta ampunan maupun yang tidak minta ampun. Dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhari disebutkan bahwa ada seorang laki-laki di masa lalu yang memerintahkan anak-anaknya untuk membakar jasadnya jika ia telah mati, lalu menaburkan abunya di hembusan angin. Tujuannya tak lain agar Allah Ta’ala kelak, menurut anggapannya, tidak dapat mengumpulkan kembali abu tersebut dan tidak dapat menyiksanya.

Lalu Allah Ta’ala mengumpulkan abunya, dan menghidupkannya kembali, dan kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ia menjawab, “Karena aku takut kepada-Mu, wahai Tuhanku.” Allah Ta’ala kemudian mengampuninya.

Para Ulama mengomentari Hadits di atas bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa seseorang karena ketidaktahuannya dalam masalah aqidah. Lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita tidak ingin memaafkan kesalahan saudara kita hanya karena ketidaktahuannya atas masalah yang lebih sepele dibanding kejadian di atas?

Al-Qur`an bahkan menyebut dengan tiga tindakan berkaitan dengan pemaafan dalam keluarga, yaitu ta’fu (memaafkan), tasfahu (tidak mengeluarkan kata-kata yang identik dengan mencela), dan taghfiru (memohonkan ampunan kepada Allah Ta’ala untuk mereka). Sesungguhnya ada seribu satu alasan untuk memaafkan, sebagaimana ada seribu satu alasan untuk tidak memaafkan. Hanya saja, sebagai orang yang telah digembleng oleh Ramadhan, kita tentu lebih memilih untuk memaafkan.

Sebab, itulah ciri-ciri orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Ali Imran [3] ayat 133-134 bahwa, “ … (orang yang bertakwa) yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang- orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. “
Alangkah angkuhnya kita jika tidak mau memaafkan saudara kita. Padahal, dengan memaafkan, berarti kita menyenangkan hati orang lain, memusnahkan benih kejahatan, menghilangkan kedengkian, dan membantu orang lain untuk bertobat.


Tidak peduli betapa mengagumkan Anda, kadang-kadang Anda akan melakukan sesuatu yang salah, dan orang-orang akan marah kepada anda. Saat itulah Anda perlu melakukan hal kecil yang disebut 'meminta maaf'. Justru ketika Anda mengakui bahwa Anda melakukan kesalahan dan kemudian minta maaf untuk itu. Tapi kadang-kadang hanya dengan mengatakan kata 'maaf' tidak cukup. Namun anda harus benar-benar perlu kesungguhan dari dalam hati. Jika Anda sudah benar-benar kacau, dan mengakui bahwa mengatasi masalah itu bisa jadi sulit. Dalam posting sebelumnya kenzoo hadirkan Tips dan Trick Meminta Maaf Pada Pacar, maka kali ini lebih bersifat umum dan inilah  Cara Meminta Maaf Yang Sempurna, tidak peduli apa yang telah Anda lakukan:
  • Bertanggung Jawab. Ketahuilah bahwa jika seseorang marah dengan Anda, kemungkinan untuk alasan yang baik, anda sebaiknya meluangkan waktu untuk merenungkan apa yang mungkin telah anda lakukan mungkin sudah mengganggu mereka. Jika Anda tidak melakukan sesuatu yang salah, maka jangan meminta maaf. Tapi, jika Anda memiliki kesalahan tersebut maka, lanjutkan ke langkah dua.
  • Segera Meminta Maaf. Jika Anda telah melakukan sesuatu yang tidak pantas, jangan mencoba untuk membenarkan posisi Anda dalam pikiran Anda. Biarkan orang lain cepat mengetahui bahwa Anda tidak bermaksud mengecewakan mereka. Idealnya, melakukan hal ini face-to-face yang paling kuat atau melalui telepon jika mereka tinggal jauh. Hindari melakukannya dalam email atau melalui Facebook dan juga SMS. Pembicaraan langsung sangatlah penting karena dengan begitu mereka akan mengetahui tentang bagaimana rasa penyesalan anda yang bisa dilihat dari raut wajah dan suara. Anda bisa memberikan Kata Ajaib Untuk Membuka Pintu Hati jika mereka adalah orang-orang yang anda cintai.
  • Sadar Akan Kemarahannya. Perjelaslah bahwa anda sangat menyesali perbuatan anda dan mengakui kurangnya kesadaran anda yang telah menyakiti mereka. Anda perlu untuk menjelaskan sendiri, hanya melakukannya dan menunjukkan bahwa Anda tidak bermaksud mengecewakan mereka. Jangan mencoba untuk membawa perasaan agar dikasihani, membuat diri Anda merasa lebih baik atau merubah rencana anda untuk meminta maaf. ini merupakan salah satu Cara Meminta Maaf Yang Sempurna dengan tidak melipatkan orang lain atau pihak ketiga. Jadilah diri anda sendiri bukan dari orang lain.
  • Minta pengampunan. Ketika Anda meminta pengampunan, biarkan mereka tahu bahwa Anda tidak akan melakukannya lagi dan sangat menyesali perbuatan dan sikap yang telah anda lakukan. Jika mereka menerima permintaan maaf Anda, segera ucapkan terimakasih dan tetap melanjutkan hubungan baik anda, bukan mengahirinya, Namun, anda juga harus menerima jika mereka menginginkan semuanya berakhir. Ini adalah resiko hukumandari kesalahan yang telah anda lakukan.
  • Memaafkan diri sendiri. Jika mereka tidak menerima permintaan maaf Anda, maka tidak ada lagi yang dapat Anda lakukan. Apakah mereka melakukan atau tidak menerima permintaan maaf Anda, Anda harus membiarkannya pergi. Rasa bersalah ini hanya akan merugikan Anda secara internal, sehingga memaafkan diri sendiri adalah pilihan yang bijak dan tentunya anda bisa belajar dari pengalaman tersebut utnuk bersikap lebih baik kemudian harinya.
Kita pernah "DILUKAI"
dan mungkin pernah "MELUKAI"
tapi karena itu kita BELAJAR
tentang bagaimana cara menghargai, menerima, berkorban dan memperhatikan.

Kita pernah "DIBOHONGI"
dan mungkin pernah "MEMBOHONGI",
tapi dari itu kita belajar tentang KEJUJURAN.

Andaikan kita tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup ini, mungkin kita tidak pernah belajar arti diri MEMINTA MAAF dan MEMBERI MAAF.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan
terulang kembali. Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan,..
yaitu BELAJAR dari masa lalu untuk hari ESOK yang lebih baik.

Hidup adalah proses,
Hidup adalah belajar.
Tanpa ada batas umur,
Tanpa ada kata tua

JATUH, berdiri lagi
KALAH, mencoba lagi
GAGAL, bangkit lagi,
Sampai Allah SWT memanggil:
"Waktunya PULANG"

Nah, agar anda tidak merasa terbebani apakah yang akan anda lakukan bisa membuat orang lain marah, tersinggung atau sakit hati, cobalah untuk bercermin dari apa yang akan anda lakukan. Anda bisa berasumsi bagaimana jika oranglain bersikap dan melakukan suatu tindakan dari apa yang akan anda lakukan terhadap diri anda. Dengan begitu, anda akan mengetahui, apakah tindakan anda menyakiti orang lain atau tidak. Namun ini tidak bisa dijadikan pedoman karena setiap orang mempunyai sikap dan perasaan yang berbeda dengan anda. Setidaknya ini langkah mudah dalam anda melangkah ketahap berikutnya.

Pilihan Hidup. Hidup adalah Pilihan.

Diartikel Ayah_Alif sebelumnya, pernah dibahas tentang "Permasalahan Hidup", dan untuk kali ini, Ayah_Alif ingin membahas tentang Pilihan Hidup dan Hidup Adalah Pilihan.

Hidup adalah pilihan. Ya, itulah kehidupan. Terdiri atas banyak sekali pilihan-pilihan hidup yang seringkali memusingkan kita karena kita tidak akan tahu mana pilihan yang terbaik untuk kita pilih. Kadang memilih sesuatu menjadi tantangan tersendiri yang sulit sekali untuk diputuskan. Seperti misalnya saya di waktu dulu seringkali berada di suatu persimpangan hidup yang mengharuskan untuk memilih, karena kita tidak mungkin memiliki semuanya sekaligus.

Mulai dari memilih sekolah, kuliah, program studi kampus, memilih untuk aktif di suatu organisasi tertentu, hingga memilih untuk membuka bisnis. Masing-masing pilihan tersebut seringkali benar-benar membingungkan dan ‘takut’ jika sewaktu-waktu keputusan yang kita pilih tidak tepat. Namun alhamdulillah, kegalauan tersebut jarang terjadi karena ada loh ternyata cara agar kita bisa memilih dengan tepat. Penasaran bagaimana caranya? Silakan baca lebih lanjut!


Memilih itu memang tidak mudah. Namun dari pengalaman, saya melihat bahwa dalam menyikapi suatu pilihan, yang berperan justru bukanlah alternatif pilihannya, namun bagaimana mental kita bereaksi terhadap pilihan-pilihan tersebut. Intinya, apapun pilihannya, selama mental kita kuat dan positif maka tidak akan menjadi masalah. Justru, sebagus apapun alternatif pilihan kalau orang yang memilih memiliki mental negatif dan buruk, justru pilihan tersebut akan menjadi tidak tepat.

Hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan. Life is choice, sebagaimana senantiasa disampaikan Felix Siauw di tiap kesempatannya memberi nasihat. Kita akan selalu dihadapkan dengan masalah-masalah kehidupan. Selanjutnya adalah pilihan apa yang kita ambil untuk kita jadikan pemecahan atas masalah-masalah itu.

Masalah-masalah kehidupan manusia adalah sama sejak dulu hingga kini, hingga akhir dunia nanti. Manusia memiliki kebutuhan hidup dan naluri-naluri. Keduanya butuh pemenuhan dan solusi. Kebutuhan hidup, seperti: makan, minum, istirahat, buang air, dsb. Naluri-naluri, semisal: ingin eksis, berkasih sayang, dan menyembah serta berserah diri pada sesuatu yang ia anggap “mahakuasa” tatkala dirinya berada dalam titik ketiadakuasaannya.

Manusia butuh prinsip hidup. Ia adalah aturan, tuntunan, serta patokan bagi dirinya dalam menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Ia adalah aturan, tuntunan, serta patokan bagi dirinya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup serta naluri-nalurinya.

Dalam kisah di atas, mercusuar yang berada di atas batu karang adalah prinsip hidup. Ia tidak dapat berubah-ubah, dan tidak dapat diubah-ubah. Keberadaannya adalah tetap, sebagai patokan dalam menentukan pilihan: apakah kita akan membelokkan kapal kita, atau kalau tidak, pastinya kita akan menabraknya. Dan tidak mungkin kita menghancurkannya. Justru kita lah yang akan binasa bila tiada mengacuhkannya.

Dan sang kapten tidak lain adalah diri kita sendiri. Kita bebas menentukan mau ke mana kita mengarahkan kapal kita, yakni hidup kita sendiri. Apakah akan memilih untuk patuh terhadap prinsip hidup? Ataukah memilih untuk menabrakkan diri melanggarnya, yang secara pasti akan menghantarkan kita pada kebinasaan dan kehancuran?

Allah, sang Pencipta manusia, telah mengabarkan pada manusia melalui utusan-Nya, bahwasannya tugas manusia di dunia ini adalah untuk mengabdi hanya pada-Nya. Dan Islam, dengan syariahnya yang melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia, adalah solusi atas masalah-masalah yang dihadapi manusia dalam menjalani hidupnya.

Allah menghendaki manusia menjadikan penghambaan pada-Nya sebagai prinsip hidupnya. Dan itu adalah dengan ber-Islam, dengan taat pada aturan-aturan dan tuntunan-tuntunan Islam, yakni syariah Islam. Dan Islam is not only a religion; it’s a complete way of life.

Islam adalah sejatinya dan sebenar-benarnya prinsip hidup bagi manusia. Selanjutnya terserah kita, apakah memilih untuk taat pada aturan-aturannya, atau dengan sombong mencampakkan dan tiada mempedulikannya. Keduanya dengan konsekuensinya masing-masing.

Nah, lantas bagaimana sih tips agar kita bisa menentukan pilihan dengan tepat?

MELAKUKAN ANALISIS SWOT

Tips pertama yaitu melakukan analisis SWOT (strength, weaknesses, opportunities, threats), yaitu keunggulan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Jadi dalam setiap alternatif pilihan yang ada, paling mudah adalah dengan melakukan analisis SWOT pada masing-masing pilihan tersebut. Apa ya keunggulannya? Apa kelemahan dari pilihan ini? Apa peluang dan ancamannya? Kemudian dibuat list dari analisis SWOT tadi. Bandingkan, dan pilih yang terbaik.

BERDISKUSI DENGAN ORANG TUA / KERABAT

Tidak jarang dalam mengambil keputusan saya berdiskusi dengan orang tua, sahabat, dosen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan berdiskusi, kita menjadi tahu pandangan-pandangan orang lain terhadap alternatif pilihan yang ada. Tidak jarang seringkali lho nasihat atau petuah dari mereka justru ga kepikiran sama kita. Jadi, sebelum menentukan pilihan bisa berdiskusi terlebih dahulu Tapi tetap, pemegang keputusan untuk memilih adalah kita sendiri. Jadi, jangan mau disetir. Hehe..

MELAKUKAN SHALAT ISTIKHARAH

Kalau kita percaya bahwa manusia bisa memberikan masukan kepada kita terkait pilihan-pilihan hidup yang cukup berat, pasti Tuhan kita akan jauh lebih powerful dalam memberikan saran untuk memutuskan. Dalam keyakinan saya, salah satu caranya adalah dengan melakukan shalat istikharah. Lakukan minimal 3 kali shalat istikharah dalam 3 hari berturut-turut dan tulus dalam berdoa, insyaAllah akan terjawab. Saya pernah melakukannya saat bingung ingin memutuskan kuliah di UI dan ITB. Finally, saya kuliah di UI dan itu amat sangat menyenangkan. Sampai sekarang.

MEMBUAT KONTRAK DIRI

Baik, sekarang saatnya menentukan pilihan. Satu tips dari saya yang mungkin berguna adalah kita bisa memulai dengan membuat kontrak diri. Apa itu kontrak diri? Kita buat perjanjian dengan diri kita sendiri bahwa apapun pilihan yang kita pilih tidak akan pernah membuat kita menyesal di kemudian hari. Menyesal hanyalah akan mengurangi produktivitas hidup. Saya mendapat nasihat ini dari seorang kakak senior yang sekarang sudah sukses. “Hidup itu adalah pilihan, dan pastikan ketika kita sudah memilih tidak terucap satu kata menyesal pun dari mulut dan hati kita.”

KETIKA SUDAH MEMILIH, PERJUANGKAN SAMPAI SELESAI

Saya belajar banyak sewaktu kuliah di UI, terutama dari berbagai organisasi yang saya ikuti. Saya pernah satu kali ‘salah masuk’ ke sebuah organisasi yang sama sekali di luar bayangan saya dan tidak saya sukai cara kerjanya. Padahal, saya sudah memilih untuk bergabung di sana. Akhirnya kerja pun menjadi tidak optimal dan saya mengundurkan diri.

“Mengundurkan diri dari sebuah pilihan adalah sebuah contoh yang buruk.”

Hal ini saya dapatkan ketika bergaul dengan orang-orang dan pengusaha yang luar biasa, bahwa hidup mereka juga seringkali diliputi dengan pilihan yang berat, tetapi mereka memiliki prinsip, “apa yang sudah kita pilih, maka perjuangkanlah sampai selesai.”

Pilihan ada di tangan kita. Dan tiap-tiap diri akan mempertanggungjawabkannya masing-masing kelak